Pengantar
Pada tulisan yang
sebelumnya, saya sudah sedikit mengulas sebuah kitab hadits dari aspek Jawami atau majami’ dan juga mengulas apa itu jawami'. Sekedar mengingatkan, pada tulisan tersebut, saya
membahas kitab Jami’ al Ushul Fii Ahadits al Rasul karya Ibn al Atsir. Kitab tersebut tergolong
kepada kitab yang klasik, nah kali ini insya Allah saya akan sedikit mengulas
sebuah kitab hadits dari aspek jawami’ juga, namun tergolong kepada kitab
klasik. Berikut pembahasannya.
Mengenal Kitab “al Taj al Jami’”
Syaikh
Manshur dalam mukadimahnya menyebutkan bahwa beliau memulai penyusunan kitab
ini pada bulan Rajab tahun 1341 H dan menyelesaikannya pada bulan dzulhijjah
1347 H. [1]
Yang unik dari penulisan kitab ini sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau
adalah dalam proses penyusunannya, yakni; dimulai dan diselesaikan pada bulan
haram. Beliau menyelesaikan ta’liqnya pada bulan itu juga, kemudian dari
mulai proses pencetakannya sampai penyelesainnya hingga terbit pada bulan haram
juga; yakni rajab 1351 H.[2]
Kitab
ini beliau beri nama dengan “al Taj al Jami’ al Ushul Li Ahadits al Rasul”.
Kitab ini adalah kitab yang disusun dengan corak atau metode fikih, di antara
pembahasan-pembahasannya adalah, kitab tanda-tanda kiamat dan kitab Surga dan
Neraka. Dan dalam bidang akhlak ada kitab Zuhud, kitab dzikir dan do’a-do’a,
dan sebagainya.
Kitab
ini menggabungkan hadis-hadis dari 5 kitab hadis yang paling shahih; yaitu
Shahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai.
Istilah-istilah Kitab
Untuk
meringkas, dalam setiap hadis yang ada dalam kitab ini, Syaikh Manshur hanya
menyebutkan seorang perawi di awal
(sahabat/yang mendengar dari Nabi) dan mukharrijnya saja seperti Bukhari,
Muslim, dan yang lainnya di akhirnya. Ada beberapa istilah penting yang mesti dipahami
berkaitan dengan metode beliau dalam menyusun kitabnya, yakni sebagai berikut:[3]
1.
Jika Bukhari dan yang lainnya
berserikat namun tanpa Muslim, maka beliau menyebutkan “Ini lafadz Bukhari”.
2.
Jika Muslim berserikat dengan
yang lainnya namun tanpa Bukhari, maka ia menyebutkan “Ini Lafadz Muslim”.
3.
Jika sebuah hadis
diriwayatkan oleh Ashab as Sunan, maka yang beliau kutip adalah lafadz dari Abu
Dawud. Jika beliau menukil lafadz yang lainnya—selain Abu Dawud—maka ia
menjelaskannya, kadang-kadang ia berkata “Rawaahu at Tirmidzi wa Shahibah”.
4.
Jika beliau berkata “Rawaahu
al Syaikhan”, maka maksudnya Bukhari dan Muslim.
5.
Jika beliau berkata “Rawaahu
al Tsalasah”, maka maksudnya Syaikhan dan Abu Dawud.
6.
Jika beliau berkata “Rawaahu
al Arba’ah”, maka maksudnya ats tsalatsah dan Tirmidzi.
7.
Jika beliau berkata “Rawaahu
al Khamsah”, maka maksudnya al arba’ah dan an Nasai.
8.
Jika beliau berkata “Rawaahu
Ashab al Sunan”, maka maksudnya Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai, apabila ada
perbedaan susunan, maka ia menjelaskannya dengan nash/teks.
Ia
menyimpan hadis-hadisnya di setiap tema yang menunjukkan kepada satu amal
sesuai urutan, seperti shalat dan haji, seperti wudlu; beliau memulainya dengan
hadis tasmiah, kemudian mengusap telapak tangan dan seterusnya. Atau seperti
Kitab Shalat; beliau memulainya dengan Sunah-sunahnya seperti adan dan seterusnya.
Selain itu dari pada tersebut di atas, beliau mendahulukan hadis-hadis yang
lebih banyak periwayatnya, kemudian yang shahih baru yang dla’if, kecuali dalam
hadis-hadis yang mengandung ikhtilaf, umpama mana yang mujmal dan mubayyannya
serta mansukh dan nasikhnya.
Pembagian Kitab
Kitab ini terbagi kepada 4 bagian, yaitu:[4]
1.
Bagian Iman, ilmu, dan
Ibadah.
2.
Bagian Mu’amalah, Ahkam, dan
‘Aadat
3.
Bagian Fadhail, Tafsir, dan Jihad
4.
Bagian Akhlak dan Sam’iyyat
Perbedaan Kitab “Al Taj” Dengan Kitab-kitab
Yang Lain
Perbedaan
Kitab ini dengan kitab-kitab hadis yang telah lalu seperti “Al Mashabih” Imam
al Baghawi (W. 516 H), “Taisir al Wushul” as Syaibani (W. 944 H), dan “Al
Muntaqo” Ibn Taimiyyah (W. 652 H) ada 3, yaitu:[5]
1.
Kitab al Mashabih adalah
kitab yang cemerlang di masanya, akan tetapi kitab ini membuang semua rawi di
awal hadis dan mukharrij di akhirnya, serta tidak memiliki bagian pembahasan
tafsir.
2.
Taisir al Wushul adalah kitab
yang tidak ada tandingannya, namun kitab ini hanya ringkasan dari kitab “al
Jami’ al Ushul” Ibn al Atsir dan disusun dengan metode mu’jam (alpabet/abjad).
3.
Kitab al Muntaqa adalah kitab
yang memiliki pembahasan halus yang rinci, hanya saja hanya menghimpun
hadis-hadis hukum; kitab tidak memiliki pembahasan lain seperti yang ada dalam
“al Taj”, baik itu tentang fadhail, tafsir, akhlak dan yang lainnya.
Kitab
“al Taj” karya Syaikh Manshur ini mempunyai semua yang tidak dimiliki
kitab-kitab di atas.
Kritik Syaikh al Bani Terhadap Kitab “al Taj”
Dalam
beberapa tahun, Syaikh al Bani bersama murid-muridnya sering berkumpul dalam
sebuah majlis, dalam majlis tersebut berlangsunglah pembahasan mengenai sebagian
sunnah nabawiyyah. Ada yang bertanya kepada beliau tentang menyimpan kedua tangan di atas dada
dalam shalat, ia mengisyaratkan sunnah menyimpan keduanya di atas pusar, Syaikh
al Bani berkata kepadanya, “Sesungguhnya hal tersebut tidak tetap dari
Rasulullah Saw.” Kemudian orang itu menjawab, “Bukan demikian, justru hal
tersebut telah tetap”. Sampai didatangkanlah kitab “al Taj al Jami’” kepada
beliau.
Kemudian
beliau menelaah kitab tersebut, dan mendapati hadis riwayat Abu Dawud, فالسنة
وضعهما تحت السرة. Ini adalah hadis dha’if sebagaimana
kesepakatan para ulama, sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, Abu Dawud
sendiri bersikap diam dalam hadis ini, yang menunjukkan memang hadis ini
dha’if. Selain itu, memang beliau sering—dalam banyak hadis—diam tak memberi
komentar.
Secara ringkas, Syaikh al Bani menyebutkan
kritikannya dalam poin-poin yang akan sebutkan sebagian di antaranya, yakni sebagai berikut:[6]
1.
Menguatkan (taqwiyah) hadis dhaif dan maudhu’.
2. Pendhaifannya terhadap hadis yang kuat, ini yang
paling berbahaya menurut Syaikh al Bani.
3. Menukil kitab lain selain ushul khamsah. Ia
menukil hadis yang sama sekali tidak ada asalnya dalam kitab sunnah, atau yang
mempunyai asal namun munkar.
4. Diam dari hadis-hadis dhaif.
5. Menisbatkan hadis kepada rawi ushul khamsah, padahal
ia tidak meriwayatkannya.
6. Ringkas dalam takhrij hadis.
7. Memutlakkan penisbatan hadis kepada Bukhari sehingga
memberi kesan hadis tersebut shahih, padahal hadis tersebut tidak ada dalam
Bukhari.
8. Ucapannya “Rawaahu Abu Dawud Saakitan ‘alaihi” memberikan
kewahmn kepada pembaca yang tidak memiliki ilmu terhadap istilah-istilah
para ulama. Sedangkan kebanyakan diamnya Abu Dawud dalam suatu hadis itu adalah
dhaif.
9. Tanaqudnya dalam
taqlid kepada Abu Dawud dalam kalimat di atas.
10. Taqlid kepada Tirmidzi dalam mendhaifkan, padahal
sanadnya Shahih.
11.
Menyalahi Tirmidzi dan yang lainnya dalam mendhaifkan.
[1] Manshur ‘Ali Nashif, al
Taj al Jami; al Ushul LI Ahadits al Rasul Wa ‘Alaihi Ghayah a; Ma’mul,
Beirut, Dar al Jail, Juz 1, hal. 11.
[2] Ibid.
[3] Ibid, hal. 19
[4] Ibid, hal. 21
[5] Ibid. Lihat pada
bagian syarahnya, di bawah teks utama mirip dengan catatan kaki.
[6] Syaikh
Nashiruddin al Albani dalam sebuah artikel berjudul Naqd Kitab “al Taj” Fii
al Hadits. Silahkan diakses di http://www.alalbany.net/4931







0 komentar:
Posting Komentar