Rabu, 12 Maret 2014

Kitab Majami' al Haditsiyyah: Mengenal Kitab at Taaj al Jaami’ Li Ushul Fii Ahadits ar Rasuul Karya Syaikh Manshur ‘Ali Nashif

 
Pengantar
Pada tulisan yang sebelumnya, saya sudah sedikit mengulas sebuah kitab hadits dari aspek Jawami atau majami’ dan juga mengulas apa itu jawami'. Sekedar mengingatkan, pada tulisan tersebut,  saya membahas kitab Jami’ al Ushul Fii Ahadits al Rasul karya Ibn al Atsir. Kitab tersebut tergolong kepada kitab yang klasik, nah kali ini insya Allah saya akan sedikit mengulas sebuah kitab hadits dari aspek jawami’ juga, namun tergolong kepada kitab klasik. Berikut pembahasannya.
Mengenal Kitab “al Taj al Jami’”
       Syaikh Manshur dalam mukadimahnya menyebutkan bahwa beliau memulai penyusunan kitab ini pada bulan Rajab tahun 1341 H dan menyelesaikannya pada bulan dzulhijjah 1347 H. [1] Yang unik dari penulisan kitab ini sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau adalah dalam proses penyusunannya, yakni; dimulai dan diselesaikan pada bulan haram. Beliau menyelesaikan ta’liqnya pada bulan itu juga, kemudian dari mulai proses pencetakannya sampai penyelesainnya hingga terbit pada bulan haram juga; yakni rajab 1351 H.[2]

         Kitab ini beliau beri nama dengan “al Taj al Jami’ al Ushul Li Ahadits al Rasul”. Kitab ini adalah kitab yang disusun dengan corak atau metode fikih, di antara pembahasan-pembahasannya adalah, kitab tanda-tanda kiamat dan kitab Surga dan Neraka. Dan dalam bidang akhlak ada kitab Zuhud, kitab dzikir dan do’a-do’a, dan sebagainya.
         Kitab ini menggabungkan hadis-hadis dari 5 kitab hadis yang paling shahih; yaitu Shahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai.
Istilah-istilah Kitab
         Untuk meringkas, dalam setiap hadis yang ada dalam kitab ini, Syaikh Manshur hanya menyebutkan  seorang perawi di awal (sahabat/yang mendengar dari Nabi) dan mukharrijnya saja seperti Bukhari, Muslim, dan yang lainnya di akhirnya. Ada beberapa istilah penting yang mesti dipahami berkaitan dengan metode beliau dalam menyusun kitabnya, yakni sebagai berikut:[3]
1.       Jika Bukhari dan yang lainnya berserikat namun tanpa Muslim, maka beliau menyebutkan “Ini lafadz Bukhari”.
2.       Jika Muslim berserikat dengan yang lainnya namun tanpa Bukhari, maka ia menyebutkan “Ini Lafadz Muslim”.
3.       Jika sebuah hadis diriwayatkan oleh Ashab as Sunan, maka yang beliau kutip adalah lafadz dari Abu Dawud. Jika beliau menukil lafadz yang lainnya—selain Abu Dawud—maka ia menjelaskannya, kadang-kadang ia berkata “Rawaahu at Tirmidzi wa Shahibah”.
4.       Jika beliau berkata “Rawaahu al Syaikhan”, maka maksudnya Bukhari dan Muslim.
5.       Jika beliau berkata “Rawaahu al Tsalasah”, maka maksudnya Syaikhan dan Abu Dawud.
6.       Jika beliau berkata “Rawaahu al Arba’ah”, maka maksudnya ats tsalatsah dan Tirmidzi.
7.       Jika beliau berkata “Rawaahu al Khamsah”, maka maksudnya al arba’ah dan an Nasai.
8.       Jika beliau berkata “Rawaahu Ashab al Sunan”, maka maksudnya Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai, apabila ada perbedaan susunan, maka ia menjelaskannya dengan nash/teks.
         Ia menyimpan hadis-hadisnya di setiap tema yang menunjukkan kepada satu amal sesuai urutan, seperti shalat dan haji, seperti wudlu; beliau memulainya dengan hadis tasmiah, kemudian mengusap telapak tangan dan seterusnya. Atau seperti Kitab Shalat; beliau memulainya dengan Sunah-sunahnya seperti adan dan seterusnya. Selain itu dari pada tersebut di atas, beliau mendahulukan hadis-hadis yang lebih banyak periwayatnya, kemudian yang shahih baru yang dla’if, kecuali dalam hadis-hadis yang mengandung ikhtilaf, umpama mana yang mujmal dan mubayyannya serta mansukh dan nasikhnya.
Pembagian Kitab
Kitab ini terbagi kepada 4 bagian, yaitu:[4]
1.       Bagian Iman, ilmu, dan Ibadah.
2.       Bagian Mu’amalah, Ahkam, dan ‘Aadat
3.       Bagian Fadhail, Tafsir, dan Jihad
4.       Bagian Akhlak dan Sam’iyyat
Perbedaan Kitab “Al Taj” Dengan Kitab-kitab Yang Lain
         Perbedaan Kitab ini dengan kitab-kitab hadis yang telah lalu seperti “Al Mashabih” Imam al Baghawi (W. 516 H), “Taisir al Wushul” as Syaibani (W. 944 H), dan “Al Muntaqo” Ibn Taimiyyah (W. 652 H) ada 3, yaitu:[5]
1.       Kitab al Mashabih adalah kitab yang cemerlang di masanya, akan tetapi kitab ini membuang semua rawi di awal hadis dan mukharrij di akhirnya, serta tidak memiliki bagian pembahasan tafsir.
2.       Taisir al Wushul adalah kitab yang tidak ada tandingannya, namun kitab ini hanya ringkasan dari kitab “al Jami’ al Ushul” Ibn al Atsir dan disusun dengan metode mu’jam (alpabet/abjad).
3.       Kitab al Muntaqa adalah kitab yang memiliki pembahasan halus yang rinci, hanya saja hanya menghimpun hadis-hadis hukum; kitab tidak memiliki pembahasan lain seperti yang ada dalam “al Taj”, baik itu tentang fadhail, tafsir, akhlak dan yang lainnya.
         Kitab “al Taj” karya Syaikh Manshur ini mempunyai semua yang tidak dimiliki kitab-kitab di atas.
Kritik Syaikh al Bani Terhadap Kitab “al Taj”
         Dalam beberapa tahun, Syaikh al Bani bersama murid-muridnya sering berkumpul dalam sebuah majlis, dalam majlis tersebut berlangsunglah pembahasan mengenai sebagian sunnah nabawiyyah. Ada yang bertanya kepada beliau  tentang menyimpan kedua tangan di atas dada dalam shalat, ia mengisyaratkan sunnah menyimpan keduanya di atas pusar, Syaikh al Bani berkata kepadanya, “Sesungguhnya hal tersebut tidak tetap dari Rasulullah Saw.” Kemudian orang itu menjawab, “Bukan demikian, justru hal tersebut telah tetap”. Sampai didatangkanlah kitab “al Taj al Jami’” kepada beliau.
         Kemudian beliau menelaah kitab tersebut, dan mendapati hadis riwayat Abu Dawud, فالسنة وضعهما تحت السرة. Ini adalah hadis dha’if sebagaimana kesepakatan para ulama, sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, Abu Dawud sendiri bersikap diam dalam hadis ini, yang menunjukkan memang hadis ini dha’if. Selain itu, memang beliau sering—dalam banyak hadis—diam tak memberi komentar.
         Secara ringkas, Syaikh al Bani menyebutkan kritikannya dalam poin-poin yang akan sebutkan sebagian di antaranya, yakni sebagai berikut:[6]
1.       Menguatkan (taqwiyah) hadis dhaif dan maudhu’.
2.       Pendhaifannya terhadap hadis yang kuat, ini yang paling berbahaya menurut Syaikh al Bani.
3.       Menukil kitab lain selain ushul khamsah. Ia menukil hadis yang sama sekali tidak ada asalnya dalam kitab sunnah, atau yang mempunyai asal namun munkar.
4.       Diam dari hadis-hadis dhaif.
5.       Menisbatkan hadis kepada rawi ushul khamsah, padahal ia tidak meriwayatkannya.
6.       Ringkas dalam takhrij hadis.
7.       Memutlakkan penisbatan hadis kepada Bukhari sehingga memberi kesan hadis tersebut shahih, padahal hadis tersebut tidak ada dalam Bukhari.
8.       Ucapannya “Rawaahu Abu Dawud Saakitan ‘alaihi” memberikan kewahmn kepada pembaca yang tidak memiliki ilmu terhadap istilah-istilah para ulama. Sedangkan kebanyakan diamnya Abu Dawud dalam suatu hadis itu adalah dhaif.
9.       Tanaqudnya dalam taqlid kepada Abu Dawud dalam kalimat di atas.
10.   Taqlid kepada Tirmidzi dalam mendhaifkan, padahal sanadnya Shahih.
11.   Menyalahi Tirmidzi dan yang lainnya dalam mendhaifkan.






[1] Manshur ‘Ali Nashif, al Taj al Jami; al Ushul LI Ahadits al Rasul Wa ‘Alaihi Ghayah a; Ma’mul, Beirut, Dar al Jail, Juz 1, hal. 11.
[2] Ibid.
[3] Ibid, hal. 19
[4] Ibid, hal. 21
[5] Ibid. Lihat pada bagian syarahnya, di bawah teks utama mirip dengan catatan kaki.
[6] Syaikh Nashiruddin al Albani dalam sebuah artikel berjudul Naqd Kitab “al Taj” Fii al Hadits. Silahkan diakses di http://www.alalbany.net/4931

0 komentar:

Posting Komentar