This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

Hadits Nabi Dalam Sorotan: Sebuah Pengantar Menjelajah Pemikiran G.H.A Juynboll Tentang Otentisitas Hadits



Pengantar
               
“Kenali Musuhmu” (Know your Enemies) adalah semboyan dari missionaris di balik kegigihan mereka dalam mengkaji Islam beserta seluk beluknya dari segala aspek. Adalah naive apabila kita bersangka baik dan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tak kan pernah ridha dan senantiasa memusuhi kita. Lebih celaka lagi jika kita mengamini seraya meniru-niru (parroting) melakukan apa yang mereka kerjakan, seperti menghina Rasulullah saw, memburuk-burukkan para Sahabat dan Tabi’in, meremehkan para ulama salaf, meragukan otoritas dan otentisitas tradisi keilmuan Islam, lalu mau membuat critical edition of al-Quran, menolak hadits (inkar al-sunnah), membuat tafsir dan hukum sendiri mengikuti hawa nafsu yang sesat dan menyesatkan. Demikian kurang lebih apa yang pernah disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam buku “Orientalis dan Diabolisme Pemikiran”.[2] Nama-nama seperti Ignas Goldziher, Alois Sprenger, Sir William Muir, Joseph Schacht, dan G.H.A Juynboll adalah termasuk bagian di dalamnya.

Jumat, 06 Februari 2015

Al Qur'an, Berbicara Tentang Penciptaan Alam Semesta

Pendahuluan: Al-Quran Dan Sains
Di antara salah satu dari sekian kemukjizatan al-Quran, adalah fakta bahwa kitab suci umat Islam ini juga menjadi sumber ilmu pengetahuan. Al-quran memuat pengetahuan di masa lampau maupun di masa yang akan datang. Para ahli, baik dari kalangan muslim maupun non muslim, berlomba untuk mengkaji dan menggali sumber-sumber ilmu pengetahuan dalam Al-Qur'an.
Mengenai hubungan al-Quran dan ilmu pengetahuan, ada dua pendapat yang berlainan.[1]
1)        Pertama, anggapan bahwa al-Quran tidak

Minggu, 12 Oktober 2014

KONSEP TUHAN

Pendahuluan: Kepercayaan Terhadap Tuhan
                Karen Amstrong dalam bukunya yang bertajuk “SEJARAH TUHAN: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, Dan Islam Selama 4.000 Tahun” mengutip teori Wilhelm Schmidt pada tahun 1912 M yang menyatakan bahwa sejak dahulu telah ada suatu monotesme primitif sebelum manusia mulai menyembah dewa.[1] Menurut teori ini, manusia pada awalnya mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi yang telah menciptakan dunia dan menata urusain manusia dari kejauhan. Namun ternyata, Dia dirasa tidak pernah hadir secara langsung dalam keseharian manusia, ada yang mengatakan bahwa Dia tidak bisa diekspresikan dan tidak dapat dicemari oleh dunia manusia, ada juga yang mengatakan bahwa Dia telah pergi. Maka mulailah terjadi penyimpangan, Tuhan tersebut digantikan oleh ruh-ruh yang lebih rendah dan tuhan yang lebih mudah dijangkau, hingga lebih jauh lagi digantikan oleh tuhan-tuhan pagan yang lebih menarik.[2]
                Dari teori Schmidt di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan manusia terhadap keberadaan Tuhan telah ada sejak dahulu manusia ada, hadir dan menjelma sebagai keyakinan yang tidak diragukan. Singkatnya, ini berarti kepercayaan terhadap Tuhan adalah fitrah; sesuatu yang natural dan alami.
Terhadap kenyataan seperti ini, ada pernyataan menarik dari Prof. Nurcholis Madjid sebagaimana dikutip oleh Dr. Nashruddin Syarif dalam bukunya “Menangkal Virus Islam Liberal”, bahwa percaya kepada suatu “tuhan” adalah hal yang dapat dikatakan taken for granted pada manusia, sepenuhnya manusiawi, sehingga sebenarnya usaha mendorong manusia untuk percaya kepada Tuhan adalah tindakan berlebihan. Tidak didorong pun manusia telah percaya kepada Tuhan.[3]
Demikian pula dalam pandangan Islam, kepercayaan terhadap Tuhan adalah fitrah, pasti ada dalam diri manusia sepanjang manusia tersebut tetap dalam fitrahnya. Pernyataan ini ditegaskan dalam al-Quran dari jauh-jauh hari bahkan berabad-abad sebelum munculnya pernyataan Schmidt di atas. Meskipun tentu berbeda Tuhan yang dimaksud oleh Islam dan tuhan-tuhan yang dipahami oleh selainnya. Ini akan kita bincangkan pada pembahasan selanjutnya.

Konsep Tuhan Dalam Agama-agama Dan Kepercayaan Di Dunia
                Perlu dipahami bahwa pembicaraan Tuhan dan agama tak dapat dipisahkan, ketika berbicara tentang agama maka tidak bisa tidak kita akan berbicara tentang Tuhan, demikian juga sebaliknya ketika berbicara tentang Tuhan maka mestilah kita juga berbicara tentang agama, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, termasuk ketika kita membicarakan tentang golongan yang katanya tidak percaya kepada Tuhan (ateisme), ketidak percayaan mereka terhadap Tuhan ini justru juga menjadi agama atau kepercayaan baru yang mendorong mereka untuk percaya kepada tuhan yang lebih rendah, baik dalam bentuk materi atau pun pemimpin-pemimpin tirani yang otoriter. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Adian Husaini, konsep Tuhan merupakan konsep pokok atau yang paling mendasar dalam setiap agama. Dari konsep Tuhan inilah kemudian dijabarkan konsep-konsep lain seperti konsep tentang manusia, kenabian, wahyu, alam, dan sebagainya[4]. Jadi, mau tidak mau antara Tuhan dan agama, mestilah keduanya kita bicarakan.
                Setiap agama dan kepercayaan punya konsep yang berbeda tentang tuhan, berikut beberapa di antaranya. [5]
                Pertama, Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani. Sebagai contoh, menurut Aristotle, Tuhan adalah “Unmoved Mover”; penggerak yang tidak bergerak. Tuhan Aristotle adalah Tuhan filsafat, Tuhan yang ada dalam pikiran, karena ia harus ada secara logika sebagai penggerak alam semesta yang senantiasa berada dalam keadaan bergerak dan berubah. Karena itu tidak ada catatan yang menyebutkan bahwa Aristotle menyembah Tuhan yang dikonsepsikannya. Tuhan Aristotle hanya tahu dirinya sendiri, dan tidak paham apa yang ada di luarnya.
                Kedua, Tuhan Dalam Agama Budhisme dan Hinduisme. Nama Tuhan dalam Budhisme tidak jelas, Budha tidak menyebut nama Tuhannya dengan sebutan tertentu. Umat Budha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sebutan “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam”, yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan dalam agama Budha adalah Anatam (Tanpa Aku), sesuatu yang tidak berpribadi, sesuatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Demikian Hinduisme, Hindu Bali menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” atau “Brahman”. Di antara sekian banyak gelar Sang Hyang Widhi, ada 3 yang paling terkenal yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa yang sohor dengan sebutan Trimurti.
                Ketiga, Tuhan dalam agama Yahudi-Kristen. Dalam tradisi Yahudi-Kristen, nama Tuhan masih diperdebatkan. Kaum Yahudi hingga kini, masih belum menemukan dan hanya berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Tetagram; kata nama yang paling penting dalam Perjanjian Lama tertulis dengan 4 huruf tanpa huruf vokal, yaitu YHWH, yang ditemukan kurang lebih 6823 kali dalam PL. Seperti yang disebutkan oleh Dr. D. L. Baker, “... nama tersebut mungkin dulu diucapkan “Yahweh”...” artinya, ini hanya sebuah spekulasi saja bukan?. Pada giliran selanjutnya, spekulasi ini berdampak pada konsepsi Kristen tentang nama Tuhan yang beragam sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Mengikuti cara kebiasaan Yahudi, tetagram (YHWH) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai “Kyrios” (Tuhan), diikuti juga oleh Yesus dan para rasul-Nya yang biasanya melafalkan Yahwe dengan Adonai (TUHAN) atau ha shem (Nama segala nama). Di Timur Tengah, kaum Kristen menyebut “Alloh”, sama dengan di Indonesia yang melafazkan nama Tuhannya menjadi “Allah”; di Barat dengan “God” atau “Lord”.
                Keempat, konsep Tuhan dalam pluralisme agama. Sebagai contoh, apa yang diucapkan oleh Nurcholis Madjid bahwa ibarat roda, setiap agama adalah ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama; pusat roda adalah Tuhan, dan jari-jari adalah jalan dari berbagai agama. Konsep ini adalah keliru.

Bagaimana dikatakan sama Tuhan dalam setiap agama tersebut, sedang nama Tuhannya saja tidak jelas, hanya Islam yang jelas?. Apakah mau kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain menyebut Tuhannya dengan sebutan “Allah” atau sebaliknya?. Jadi, tentu tidak sama.
Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan “Allah” sama dengan orang Islam, namun perlu dicatat, ketiganya punya konsep yang berbeda. Bagi kaum Musyrik, Alloh adalah nama salah satu Tuhan mereka di samping Tuhan Latta, Uzza, Hubbal, dsb. Karena itu mereka telah melakukan syirik. Demikian kaum Kristen yang mengangkat nabi Isa  sebagai Tuhan. Jadi, kendati sama menyebut Alloh, namun yang dimaksud berbeda. Karena itu lah  Nabi Muhammad saw menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masing-masing secara bergantian (QS. al-Kafirun).

ISLAM: Konsep Tuhan Yang Sebenarnya; Tuhan=Fitrah=Tauhid
Dalam pembahasan sebelumnya telah kita singgung bahwa kepercayaan terhadap Tuhan adalah fitrah; satu hal yang natural, termasuk dalam ajaran Islam, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat-ayat al Quran berikut ini:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar Rum: 30)

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (QS. al A’rof: 172)
Kedua ayat di atas sangat jelas menegaskan bahwa percaya kepada Tuhan adalah fitrah, sudah ada bahkan sejak manusia hendak diciptakan. Namun yang menarik adalah hakikat dari fitrah itu sendiri, menurut Dr. Nashruddin Syarif, fitrah yang dimaksudkan di sini adalah tauhid; yakni penegasan bahwa manusia secara alami percaya kepada satu Tuhan, dan Tuhan tersebut adalah Alloh swt. Ini tentu berbeda dengan teori keagamaan lainnya, di mana al Quran tidak membenarkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai sesuatu yang manusiawi dan kepercayaan kepada sembarang Tuhan. Artinya, dalam agama Islam orang yang percaya kepada Tuhan selain Alloh dikategorikan melenceng dari fitrah. [6] Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw berikut ini.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ...
Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tua nya lah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni atau Majusi... (Muttafaq alaih)
               
Selanjutnya, konsep Islam tentang Tuhan sangat unik dan khas, karena al-Quran sebagai kitab suci umat Islam menyebut secara jelas nama Tuhan yaitu الله. Kata الله tidak boleh diucapkan sembarangan, harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw yakni “Allah”. Jadi, umat Islam seluruh dunia dari dulu hingga kini dan sampai hari kiamat tidak berbeda pndapat dan sepakat bahwa nama Tuhan mereka adalah “Allah”. Dengan demikian nama “Allah” ini bersifat final dan otentik, karena umat Islam menyebutnya dengan lafal yang sesuai dengan apa yang ada dalam al-Quran dan langsung diajarkan oleh Rasulullah saw dan bukan dengan melakukan ‘spekulasi filosofis’ seperti yang terjadi atau dilakukan dalam agama lain.[7]
Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, tegasnya Tuhan—Alloh—sendiri yang memperkenalkan dirinya sehingga tidak memberi kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal.[8]
                Di dalam al Quran, Alloh Swt berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ...
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah... (QS. Muhammad: 19)
                Makna kalimat “Ilah” dalam ayat di atas, menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah adalah Yang disembah serta ditaati, ilah adalah ma’luh (tempat berlindung), dan ma’luh adalah yang berhak untuk disembah.[9] Sedang menurut al Zamakhsyari, Ilah adalah ismul jinsi (nama jenis); seperti kalimat kaki atau kuda, yaitu setiap yang disembah baik itu yang hak atau pun batil, kemudian dikalahkan atau disingkirkan oleh sembahan yang hak.[10] Jadi makna dari kalimat “Laa ilaaha illa-Alloh” adalah tiada sembahan yang disembah dengan hak kecuali Alloh. Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh menegaskannya dengan kalimat “Laa Ma’buda bi haqqin illa-Alloh”, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Alloh.[11]
                Dari konsep ini, Islam tidak membenarkan konsep-konsep ketuhanan lain yang mengakui tuhan lebih dari satu, juga tidak membenarkan konsep ketuhanan yang mengatakan Alloh mempunyai istri dan anak, Tuhan orang Islam jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (QS. al-Ikhlas: 1-4). Malah dengan tegas orang yang menyebut bahwa Alloh mempunyai anak seperti Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair anak Alloh dan Kristen yang mengatakan bahwa Nabi Isa adalah Alloh sebagai KAFIR.[12] Konsep ketuhanan dalam Islam memang tidak mentolelir kemusyrikan (menyekutukan Tuhan—Alloh--dengan selain-Nya)
                Dalam khazanah Islam, ada pembahasan mengenai konsep Tuhan yang disebut dengan ilmu kalam. Dalam ilmu ini Tuhan dikonsepsikan sebagai yang secara Zat tidak bisa dikenal karena ia berbeda dengan apapun. Maka tentang hal ini tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan-Nya karena apapun yang kita deskripsikan pasti tak kan sama dengan-Nya. Pada level ini Tuhan tidak bisa dikatakan memiliki sifat apapun, tidak ada sifat apapun yang bisa dinyatakan positif, bahkan tidak pula sifat wujud. Oleh sebab itu, maka sifat-sifat ALloh kemudian ditolak. Kelompok yang berpendapat seperti ini antara lain Jahmiyah, Mu’athilah, Mu’tazilah, dan sebagian besar filosof seperti Ibn Sina.[13]
                Seorang ulama bernama Ibn Arobi memilih untuk menggabungkan pendapat para ahli kalam dan para ulama ahli tauhid--yang dapat diwakili oleh Ibn Taimiyyah atau al Ghazali--, dengan memahami konsep Tuhan di atas seperti berikut. Menurut Ibn Arobi, pendapat para ahli kalam benar jika Tuhan ditinjau dari segi Zatnya saja. Tapi menurutnya Tuhan juga memiliki aspek lain yaitu sifat, sehingga sifat-sifat Alloh seperti hidup, melihat, dan sebagainya adalah benar. Jadi, baik pandangan para ahli kalam atau pun para ulama lain semisal al Ghazali adalah sama benarnya.[14]
                Pandangan Ibn ‘Arobi ini tak lepas dari kritikan. Menurut Ibn Taimiyyah, Konsep Tuhan yang diajarkan oleh al Quran, Hadits, dan kemudian diamalkan oleh para sahabat dan tabi’in itu juga mengajarkan konsep Tuhan dalam asma wa shifat (nama dan sifat). Artinya, nama dan sifat Alloh Swt tidak dapat dipisahkan, nama apa saja yang Alloh sebutkan; termasuk Alloh sebagai zat, dan sifat apa yang Alloh sebutkan mutlak harus diimani.[15] Jadi, menurut pandangan ini, pendapat Ibn ‘Arobi adalaah keliru.



[1] Karen Amstrong, SEJARAH TUHAN: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, Dan Islam Selama 4.000 Tahun, Bandung, Penerbit Mizan, cet. 6, thn. 2002, hal. 27 (alih bahasa: Zaimul Am).
[2] Ibid, hal. 28
[3][3] Nashruddin Syarif, Menangkal Virus Islam Liberal: Panduan Islamic Worldview untuk Para Aktivis Dakwah, Bandung, Persis Press, cet. 3, thn. 2013, hal. 82.
[4] Dr. Adian Husaini, Islam Agama Wahyu: Bukan Agama Budaya Dan Sejarah, Jakarta, INSIST, cetakan pertama, thn. 2011 M, hal. 11.
[5] Poin pertama sampai keempat disarikan dari buku Dr. Adian Husaini, Islam Agama Wahyu: Bukan Agama Budaya Dan Sejarah, hal. 12-47.
[6] Nashruddin Syarif, Menangkal Virus Islam Liberal: Panduan Islamic Worldview untuk Para Aktivis Dakwah, hal. 88
[7]Dr. Adian Husaini, Islam Agama Wahyu: Bukan Agama Budaya Dan Sejarah, hal. 18
[8] Ibid.
[9] Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Fath al Majid: Syarah Kitab al Tauhid, Kairo, Dar al Ghad al Jadid, cetakan pertama, thn. 2007 M/1426 H, hal. 48-49.
[10] Ibid, hal. 48.
[11] Ibid, hal. 47.
[12]QS. al Maidah: 17.
[13] Nashruddin Syarif, Menangkal Virus Islam Liberal: Panduan Islamic Worldview untuk Para Aktivis Dakwah, hal. 100
[14] Ibid, hal. 101
[15] Ibid. Mengutip dari Muhammad bin Shalih al Utsaimin, al Qaul al Mufid Wa Fath al Majid fi Syarh Kitab al Tauhid, (editor: ‘Adil ibn Sa’ad), Kairo, Dar Ibn al Haitsam, 2003, hal. 17-20.

Kamis, 26 Juni 2014

Hermeneutika Metodologis F.D.E. Schleiermacher Dan Dampaknya Terhadap Tafsir Al Quran

A. Selayang Pandang Biografi Schleiermacher (1768-1834 M) 
Nama lengkapnya adalah Friedrich Daniel Schleiemarcher lahir di Breslau  21 November 1768 dari keluarga yang taat dalam agama Protestan. Tahun 1783 ia mengikuti pendidikan menengah di sekolah Moravian di Niesky. Alasan ia masuk sekolah tersebut, selain karena mengikuti tradisi keluarganya, adalah terutama karena motivasi yang sangat kuat untuk mencari pengalaman iman yang mendalam dalam hidup Kristen. Di sekolah tersebut, pelajaran Bahasa Latin dan Yunani dijadikan sebagai dasar pendidikan humanistik, di samping pelajaran matematika, Botani dan Bahasa Inggris. Kemudian, pada tahun 1785 ia melanjutkan studinya ke Barby bersama teman-temannya. Tahun 1787 ia menjalani matrikulasi  di universitas Halle yang berkembang di bawah filsafat Christian Wolf dan Semler.
Di universitas tersebut, di bawah bimbingan Johann August Eberhard, ia mempelajari dan mengevaluasi filasafat Kant melalui tulisannya yang berjudul “Kritik Atas Akal Murni” (Criric of Pure Reason). Ia juga menerjemahkan tulisan Aritoteles yang berjudul “Ethica Nicomachea”. Dan di bawah bimbingan F.A. Wolf ia mempelajari gagasan-gagasan Filsuf Yunani.
Singkat cerita, pada perjalanan intelektualnya, setelah pada tahun 1789-1790 M ia pindah ke Drossen, ia sempat bersikap skeptik terhadap semua ajaran yang dipelajarinya. Namun karena desakkan kuat dari ayah dan pamannya, tahun 1790 ia pindah ke Berlin  untuk mengikuti ujian teologi di Direktorat Gereja Reformasi selama 6 hari, dan ternyata hasil ujiannya itu sangat memuaskan.  Selanjutnya ia tinggal di Schlobitten di wilayah Prusia Timur, tempat di mana kehidupan religiusnya tumbuh kembali.
Persahabatannya dengan seorang ahli filsafat Alam Kodrat bernama Steffens, merupakan faktor penting dalam pembentukan pandangan kefilsafatannya, yaitu pandangan filsafat kebudayaan sejarah. Namun sebenarnya, sebagai dosen ia sangat antusias terhadap etika, dogma, dan hermeneutik. Kemudian dalam persahabatannya dengan  Wilhelm Von Humbolt dan sebagai anggota komisi, Schleiermacher mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengorganisasian awal berdirinya Universitas Berlin. Bahkan September 1810 ia diangkat menjadi Dekan yang pertama pada fakultas teologi hingga tahun 1820. Pada tahun 1815-1816 ia menjadi Rektor di Universitas tersebut.
Ia meninggal dunia pada hari rabu 12 februari 1834 karena radang paru-paru.
B. Hermeneutika Schleirmacher 
1. Pengaruh Friedrich Ast dan Friedrich August Wolf
Ada dua ahli filologi yang tidak mungkin diabaikan dalam gagasan hermeneutika Schleiermacher, yakni Friedrich Ast (1778-1841 M) dan Friedrich August Wolf (1759-1824 M). Sebagai gambaran, tugas Hermeneutika menurut Ast dirumuskan dalam 3 bentuk pemahaman, yaitu pemahaman materi yang dirumuskan dalam karya, pemahaman bahasa, dan pemahaman roh karya; yakni pemahaman roh zaman dan pandangan semesta dari si pengarang yang saling berinteraksi serta saling menerangi. Bentuk ketiga (pemahaman roh) lah yang dikembangkan oleh Schleiermacher. 3 tingkat pemahaman ini, juga membawa Ast pada pembedaan terhadap 3 tingkat penjelasan; hermeneutika huruf (hermeneutik des Buchstabens), hermeneutika makna (hermeneutik des sins), dan hermeneutika roh (hermeneutik des geistes). Namun menururt Schleiermacher, hermeneutika makna yang mengangkat masalah polisemilah yang merupakan hermeneutika yang sebenarnya. Pengaruh Ast ini, kelak dapat dikenali sebagai melatarbelakangi diskusi Schleiermacher tentang aspek-aspek gramatikal dan teknikal atau psikoligikal serta diskusi tentang metode-metode divinatorik dan komparatif. Pencapaian Ast lainnya yang penting  dan dijumpai dalam hermeneutika Schleiermacher adalah bahwa pemahaman merupakan pengulangan proses kreatif (Nachbildung). Usaha memahami teks tidak hanya sekedar menganalisis kata.
Sedangkan Wolf, menyebut hermeneutika sebagai “ilmu tentang aturan-aturan untuk mengenali makna (die bedeutung) tanda-tanda”. Tujuan hermeneutika sendiri menurutnya adalah “menangkap pikiran-pikiran seseorang yang tertulis bahkan yang diucapkan sebagaimana orang terebut menghendaki untuk ditangkapnya. Dengan ini, Wolf merancang hermeneutika yang praktis, factual, dan bersifat regional, yakni setiap objek mempunyai aturan sendiri; baik itu sejarah, hukum, karya sastra, dan sebagainya.
3 tingkat hermeneutika menurut Wolf adalah interpretatio gramatical, interpretatio historica, interpretatio philosophica. Interpretasi adalah pemahaman yang diartikulasikan. Interpretasi hanya dapat dilaksanakan apabila pemahaman dilakukan dengan cermat dan seksama, Niemand kann interpretari, nisi subtiliter intellexterit.
Namun demikian, kendati dapat dikenali masukan-masukan yang produktif bagi rekonsepsi Schleiermacher tentang hermeneutika, belum dapat dilihat masalah pemahaman, hermeneutika belum mengembangkan seperangkat aturan yang taat asas dan lengkap, serta belum pula berada dalam bentuk yang umum; masih terpisah-pisah.
2. Rekonsepsi Hermeneutika
Schleiermacher melihat kesatuan yang lebih mendasar pada semua jenis teks. Fenomena bahasa tampil menonjol dalam hermeneutika. Teks apapun memakai bahasa, bahasa ada tata bahasanya, dan tata bahasa dapat dipakai untuk menemukan arti suatu kalimat; arti adalah interaksi antara pikiran dan struktur tata bahasa yang sudah menjadi perjanjian. Begitulah hakikat dari dokumen apapun. Dengan demikian, jika prinsip-prinsip semua pemahaman bahasa dapat dirumuskan, dapat dipegang kesatuan yang mendasari semua hermeneutika khusus dan kesinambungan sistematik dari berbagai hermeneutika yang mempunyai kumpulan aturan sendiri.
Dalam konteks ini, 3 unsur yang sebelumnya, yakni memahami teks, menjelaskan yang terpahami, dan aplikasi yang terpahami pada hidup si interpretator tidak dilihat sebagai suatu masalah bagi proyek hermeneutika umum. Konfrontasi masa kini dan masa lalu tidak dibicarakan karena masalah aplikasi tidak dilihatnya sebagai masalah. Hermeneutika okasional pedagogis tidak relevan bagi suatu hermeneutika umum maka terlampaui lah perolehan studi hermeneutika saat itu. Hal  itu juga disebabkan perbedaan antara hermeneutika sacra dan hermeneutika profana disingkirkan.
Kitab suci tidak dipandang lagi sebagai buku wahyu yang khas. Ia adalah dokumen di samping dokumen lainnya.
3. Inti Gagasan Hermeneutika Schleiermacher
Dalam perkembangan pemikirannya, Schleiermacher melepaskan gagasan bahwa hakikatnya, secara intrinsik pikiran dan pengungkapannya ke dalam bahasa adalah identik. Setelah itu semakin tegaslah pendapat Schleiermacher bahwa objek hermeneutika ada dalam dua bidang, yakni bahasa dan pikiran. Pada bahasa ada metode gramatikal (menyoroti segi objektif) sedang pada pikiran ada metode teknikal (menyoroti segi subjektif). Keduanya merupakan inti organisasi hermeneutika Schleiermacher.
Metode teknikal yang tujuannya adalah memahami gaya (styl), oleh Schleiermacher—dalam ceramahnya di depan akademi Prusia—disebut dengan metode psikologikal. Ini adalah saham orisinal Schleiermacher dan secara bertahap menguasai perkembangan Schleiermacher. Namun agaknya, ini juga merupakan pengaruh dari filsafat hidup (philosophy Of Lebens) Shlegel yang mengatakan bahwa objek filsafat adalah hidup kejiwaan (Gestige Leben) dengan segala daya tenaganya yang kaya dan beragam.
Interpretasi psikologikal yang selalu merupakan dialektika sifat komparatif dan divinatorik, berusaha memahami individualitas pengucap ungkapan, bagaimana cara merumuskan pengalaman dan pikirannya ke dalam bahasa. Adapun interpretasi gramatikal yang juga bersifat komparatif dan divinatorik, suatu ungkapan ditentukan identitasnya menurut ketentuan-ketentuan objektif dan umum yang berlaku. Keduanya adalah sama sehingga keliru jika dikatakan interpretasi gramatikal lebih rendah sedang gramatikal lebih tinggi.
Suatu struktur bahasa yang memuat pemikiran tertentu diuraikan sehingga dapat ditarik sesuatu. Berdasarkan ketentuan suatu bahasa, pikiran yang hendak disampaikan, agar dimengerti maksudnya harus diungkapkan dalam struktur kebahasaan tertentu. Schleiermacher melihat hal itu sebagai pembatasan karena hal yang khas terpaksa dituang dalam struktur yang sifatnya umum. Padahal. Setiap individu adalah manifestasi tertentu  dari sang hidup, yang mempunyai kekhasan (Eugentumlichkeit) tersendiri. Oleh karena itu dibutuhkan interpretasi psikologikal yang dirancangkan untuk mencari kekhasan individualitas yang ternyata merupakan suatu misteri. Tampillah subjektivasi pendekatan bahasa. Di sini dibutuhkan semacam kesamaan kejiwaan dengan pencipta. Perlu meletakkan diri setingkat dengan pencipta. Oleh karena itu, barang siapa membaca, ia harus keluar dari dunia perasaannya (Gesinung) untuk membuka diri terhadap dunia perasaan pencipta dan terhadap dunia kejiwaan pencipta. Sasarannya adalah untuk “memahami teks lebih baik dari pada si penulisnya” serta “memahami si penulis lebih baik dari pada si penulis memahami dirinya sendiri”.
Bagaimana memahami penulis dengan lebih baik dari pada penulis itu sendiri?. Sebagai contoh, seorang sejarawan yang menulis sejarah zamannya sendiri akan bercorak subjektif dan kurang lengkap, sebab ia akan melihat berbagai peristiwa dalam rangkaian yang tertutup. Ia tidak memiliki persfektif yang luas atau tidak mengambil jarak untuk membuat penilaian yang baik. Sejarawan yang hidup pada zaman sesudahnya akan memahami secara lebih baik dan benar, karena ia hidup sesudah semua peristiwa itu terjadi; sehingga mampu melihat tidak hanya waktu dan tempat, tapi juga keseluruhan gambaran secara global dan menyangkut berbagai seginya. Jadi sebuah teks sejarah yang ditulis oleh sejarawan pada zaman dulu akan dipahami secara lebih baik oleh peneliti yang menggali secara lebih dalam semua peristiwanya dan menemukan interpretasi yang baru dan segar.
Mencari pribadi pengucap atau pengarang, dipandang oleh Schleiermacher sebagai segi yang positif dan bukan kegiatan membatasi. Dengan kegiatan interpretasi gramatikal dan psikologikal, Schleiermacher hendak menegaskan bahwa untuk memahami diperlukan pengalaman kembali atas apa yang dialami oleh pengarang dan tidak melihat pernyataan terlepas dari pengarangnya.
C. Dampak Hermeneutika Schleiermacher Terhadap al Quran
Adnin Armas dalam salah satu artikelnya menjelaskan bahwa pendapat Schleiermacher yang mengasumsikan semua teks itu sama dan tidak memiliki keunikan akan berimplikasi bahwa al Qur’an juga tidak istimewa. Pendekatan penerus dari Schleiermacher; yaitu Dilthey yang menjadikan sejarah sebagai sumber pemahaman teks akan berimplikasi bahwa al Qur’an adalah teks sejarah dan dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya pada waktu itu. Ini tentu sangat tidak dapat dibenarkan, karena al Quran adalah wahyu “lafdzan wa ma’nan”. 
Selanjutnya, dampak dari pemikiran hermeneutika Schleiermacher—termasuk Dilthey dan tokoh hermeneutik lainnya—adalah berupa pengaruhnya terhadap framework beberapa pemikir dalam memahami al Qur’an. Kendati para pemikir tadi tidak mengutip langsung nama para hermeneut tersebut, namun pernyataan bahwa al Quran perlu dipahami dengan pendekatan historis telah menunjukkan pengaruh tersebut. Demikian ungkap Adnin Armas. 
Sebagai contoh, beberapa pemikir yang terpengaruh oleh para hermeneut ini adalah Mohammed Arkoun; seorang seorang guru besar dalam pemikiran Islam di Universitas Sorbon Perancis dan Nashr Hamid Abu Zayd; seorang pemikir modernis yang berasal dari Mesir.
Mohammad Arkoun misalnya menyatakan bahwa Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah produk sosial dan budaya masyarakat dan ia telah dijadikan sesuatu yang “tak terpikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Bahkan secara lebih eksplisit ia juga menyatakan bahwa pendekatan historisitas, sekalipun berasal dari barat, namun tidak hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja. Pendekatan tersebut dapat diterapkan pada semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks historis. 
Sejarah al Quran menurut Arkoun dibagi kepada 3 periode, periode pertama berlangsung ketika pewahyuan (Prophetic Discourse. 610-632 H); periode kedua, berlangsung ketika koleksi dan penetapan mushaf (Prophetic Closed Corpus. 12-324 H/632-936 M), dan periode 3 berlangsung ketika masa ortodoks (Prophetic 324 H/936 M). Berdasarkan periode pertama dan kedua, Arkoun mendefiniskan al Qur’an sebagai sebuah korpus yang selesai dan terbuka yang diungkapkan dalam bahasa Arab, di mana kita tidak dapat mengakses kecuali melalui teks yang ditetapkan setelah abad ke 4 H/10 M. 
Arkoun membedakan antara periode pertama dan kedua. Menurutnya, pada periode pertama al Quran lebih suci, lebih autentik, dan lebih dapat dipercaya dibanding ketika dalam bentuk tertulis. Sebabnya, al Quran terbuka untuk semua arti ketika dalam bentuk lisan, tidak seperti dalam bentuk tulisan yang telah berkurang dari kitab yang diwahyukan menjadi sebuah buku biasa. Arkoun berpendapat bahwa mushaf itu tidak layak untuk mendapatkan status kesucian, tetapi Muslim ortodoks meninggikan korpus ini ke dalam sebuah status sebagai firman Tuhan. 
Sedangkan Nashr Hamid Abu Zayd, sejalan dengan Dilthey ia menyatakan al Qur’an sebagai “Muntaj al Tsaqaafi” (produk budaya) yang terbentuk selama lebih dari 20 tahun. Karena realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka ia juga menganggap al Qur’an sebagai teks bahasa (nash lughawi). Realitas, budaya, dan bahasa merupakan fenomena historis dan mempunyai konteksnya masing-masing. Oleh sebab itu, al Qur’an adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan al Qur’an adalah teks masusiawi (nash insani). 
Ia juga menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan al Qur’an dengan muatan metafisis Islam. Menurutnya, hal tersebut tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Ia menyatakan: “Saya mengkaji al Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab agar dapat dikaji baik oleh kaum Muslim, Kristen, maupun Atheis”. 
Pemahaman Arkoun dan Abu Zayd di atas, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh al Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa al Quran adalah wahyu, bukan perkataan Muhammad saw yang seorang penyair, tukang tenun, atau orang gila.  Sekalipun manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat al Quran. Selain itu teorinya juga bertentangan dengan teori para ulama tafsir. Sebab, keimanan merupakan syarat dan metode khusus bagi yang ingin menafsirkan al Quran. Al Thabari misalnya, menegaskan bahwa  syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikuti sunnah. Orang yang akidahnya cacat tidak bisa dipercaya untuk mengemban amanah yang berkaitan dengnan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan. Begitu pula al Suyuthi, mengatakan bahwa sikap sombong, cenderung kepada bid’ah, tidak tetap iman dan mudah goyah dengan godaan, cinta dunia yang berlebihan dan terus-menerus melakukan dosa bisa menjadi hijab dan penghalang dari menerima anugrah ilmu Allah Swt. 
Sebagai tambahan, secara umum dampak hermeneutika jika diterapkan kepada al Quran, menurut Dr. Adian Husaini dalam buku “Hermeneutika Dan Tafsir al Quran” ada 3; yaitu: 
1. Relativisme tafsir
Para pengaplikasi hermeneutika menganut paham relativisme tafsir. Tidak ada tafsir yang tetap. Semua tafsir dipandang sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal, dan personal. Prof. Amina Wadud, seorang tokoh feminis menyatakan, “No method of Quranic exegesis fully objectives, each exegete makes some subjektive choices”. (Tidak ada metode penafsiran al Qur’an yang sepenuhnya objektif, masing-masing penafsir membuat pilihan-pilihan subjektif).
Berangkat dari paham relativisme ini, maka tidak ada lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak, semua manusia bisa salah.
2. Curiga dan mencerca ulama
Para pendukung metode ini juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang membabi buta terhadap para ulama Islam yang terkemuka, seperti Imam Syafi’i yang berjasa merumuskan metodologi keilmuan Islam. Contohnya, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Adian Husaini dari buku “Fikih Lintas Agama” yang diterbitkan oleh Paramadina dan The Asian Foundation sebagai berikut:
“Kaum muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat oleh Imam Syafi’i. Kita lupa, Imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih muslim tidak mampu keluar dari metodologinya. Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak tak tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash syar’i (al Qur’an dab hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i”.
3. Dekonstruksi konsep wahyu.
Para pendukung hermeneutika memasuki wilayah yang sangat rawan dengan mempersoalkan dan menggugat otentisitas al Qur’an sebagai kitab yang “lafdzan wa ma’nan minallah”.
D. Kesimpulan
Diakhir tulisannya, ketika membahas Dampak Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey terhadap tafsir al Quran, Adnin Armas menyimpulkan: “... bahwa yang paling utama dalam metode atau filsafat hermeneutika adalah teori tentang status suatu teks dan bukan tentang bagaimana metode menafsirkan teks tersebut secara tekstual.” 
Dr. Syamsuddin Arif dalam buku “Orientalis dan Diabolisme Pemikiran” menyatakan: “... hermeneutika tidak sesuai untuk diterapkan dalam studi Islam. Kita katakan ‘tidak sesuai’, bukan ‘tidak bisa’ atau ‘tidak mungkin’, karena perkara ini menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya”. 
Hermeneutika tidak lahir dari ruang kosong, ada latar belakang yang menjadi sebab kemunculannya, sebagaimana halnya cabang ilmu-ilmu yang lain. Hermeneutika lahir dari kekecewaan terhadap Bible yang diragukan keasliannya. Ini berbeda dengan al Quran yang masih dan akan terus terjaga keasliannya.
Dengan perbedaan mendasar antara Bible—atau teks lainnya—dengan al Quran ini, maka tentu hermeneutika tidak dan tak akan pernah sesuai untuk diterapkan kepada al Qur’an. Pemaksaan penerapan hermeneutika yang dilakukan oleh para orientalis dan pembebek-pembebeknya hanya akan meruntuhkan dan merusak Islam itu sendiri. Dalam konteks ini, gagasan hermeneutika Schleiermacher yang menganggap semua teks sama, adalah pintu pertama untuk menerapkan hermeneutika terhadap al Quran. Ini tentu tidak dapat diterima, karena menerapkan gagasan Schleiermacher terhadap al Quran, sama saja dengan mengingkari keaslian al Quran yang merupakan wahyu baik secara lafadz atau pun maknanya.
Sebut saja contohnya Mohammed Arkoun dan Nashr Hamid Abu Zayd, mereka tidak akan pernah dapat menafsirkan al Quran dengan ala hermeneutika, kecuali dengan terlebih dahulu  menurunkan derajat teks al Quran  dari teks wahyu menjadi teks yang manusiawi; bahwa al Quran yang keluar dari mulut Nabi Muhammad saw adalah bahasa Arab biasa yang dipahami oleh orang-orang Arab ketika itu.  Dan menurunkan derajat al Quran menjadi teks manusiawi biasa, sama saja dengan meruntuhkan dan membubarkan dasar serta pondasi agama Islam.

Daftar Pustaka


Al Quran
Sumaryono E. , Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, thn. 1999.
Poespoprodjo W. , Hermeneutika, Bandung, Pustaka Setia, thn. 2004
Armas Adnin, “Dampak Hermeneutika F.D.E Schleiermacher dan William Dilthey Terhadap Studi al Qur’an, hal. 6. (artikel)
Husaini Adian dan al Baghdadi Abdurrahman , Hermeneutika dan Tafsir al Qur’an, Jakarta, Gema Insani Press, thn. 2007.
Arif Syamsuddin, Orientalis Dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta, Gema Insani Press, thn. 2008.

Kamis, 06 Februari 2014

Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam Periode Makkah dan Relevansinya Dengan Tantangan Dakwah di Masa Kini



Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam
            Silahkan baca buku-buku atau kitab-kitab sirah atau sejarah yang anda miliki, yang teman anda miliki, pernah anda lihat, atau pernah anda ketahui! Anda baca kemudian pahami! Bagaimana keadaan orang Arab Jahiliah sebelum Islam, anda akan dapati betapa keadaan mereka itu terbelakang, asing dari peradaban, bodoh, senang berselisih dan bercerai berai, bahkan sanggup tanpa ragu dan segan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka sendiri hanya karena satu alasan; “malu”. Silahkan buktikan![1]