Pembahasan perihal seorang rowi adalah salah satu dari cabang-cabang ilmu hadis. Cabang ilmu hadis yang satu ini, membahas dua hal yang ada dalam diri seorang rawi.
Pertama, seputar pribadinya; dan yang
kedua, namanya. 3 hal yang dibahas pada bagian yang pertama, yakni; periwayatan dari rawi yang lebih besar (senior) yang menerima dari yang lebih kecil (junior), periwayatan ayah dari anaknya dan sebaliknya—anak dari ayah--
penj, serta periwayatan seorang rawi yang menerima hadis dari saudaranya.
Pengertian Riwayah al Akabir ‘An ash Shagir adalah periwayatan dari rawi yang lebih besar (senior); baik itu dari segi usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya, yang menerima atau meriwayatkan hadis dari rawi yang lebih kecil (junior); baik dilihat dari usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya juga.
Asal dan akar pembahasan ini adalah riwayat Rasulullah Saw dari Tamim ad Daari; seorang Nasrani yang masuk Islam, yakni hadis tentang al Jassasah yang ada dalam kitab “Shahih Muslim”.
Kendati harus diakui bahwa memang satu karya khusus yang membahas tentang ilmu ini--Riwayah al Akabir ‘An al Shagir--sangat jarang, namu tak dapat dipungkiri bahwa ilmu ini termasuk ilmu yang sangat penting, karna itu dikatakan:
لايكون الرجل محدثاحتي يأخذ عمن فوقه, ومثله, ودونه
Seseorang tidak akan menjadi muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, atau yang lainnya.
Riwayah al Akabir ‘An al Shagir terbagi kepada 3 macam, yaitu;
Pertama, Rawi yang lebih besar (senior) dari yang lebih kecil (junior) dari segi usia dan thabaqahnya. Contoh; az Zuhri dan Yahya bin Sa’id dari Malik. Dalam bagian yang pertama ini, contohnya ada dalam ar Rasyid al ‘Athar dengan karyanya berjudul “Al I’lam Bi Man Hadatsa ‘An Malik bin Anas, al Imam Min Masyayikhihi as Saadah al A’lam,” Kitab al Akabir ‘An ash Shagir karya Ibn Syahin, dan Maa Rawaahu ‘An Malik bin Anas karya Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar.
Kedua, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dengan perkiraan, dilihat dari segi; bahwa yang meriwayatkan lebih ’alim dan faqih. Dan yang menerima riwayat hanya seorang syaikh biasa. Seperti riwayat Imam Malik dari Abdullah bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rawahahaih dari ‘Ubaidillah bin Musa al ‘Abbasi dalam kitab “Asybah”.
Ketiga, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dari dari keduanya—dua segi di atas—yakni dari segi usia, thabaqah, serta ke’aliman dan kefaqihannya. Ini seperti riwayat banyak ulama dari para sahabat dan murid-murid mereka. Contoh ‘Abdul Ghina al Azdi (W. 409 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Ali ash Shuuri (W. 441 H); Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al Barqani (W. 425 H) dari Abu Bakar al Khatib (W. 463 H); al Khatib dai Abu Nashr al Amir Ibn Makulaa (W. 478 H).
Mengenai urgensi dan faidah dari ilmu ini, secara lebih rinci adalah sebagai berikut:
1. Ibn Shalah : “Di antara faidah dari ilmu ini adalah untuk meniadakan kewahman tentang mana yang lebih akbar dan lebih utama dari seorang rawi... ”.
2. Al Hafidz as Sakhawi: “Ilmu ini adalah bidang penting yang menuntun kepada cita-cita yang tinggi dan jiwa yang suci, karena itu dikatakan, “Tidaklah seseorang disebut sebagai muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, dan yang berada di bawahnya.
3. Menjaga dari kekhawatiran inqilab (terbaliknya) sanad, dengan kata lain mencegah dari menyebutkan riwayat dari “yang senior” dengan menyebutkan “yang junior” atau sebaliknya, dan kemudian memalingkan orang-orang dalam meriwayatkan dari rawi tersebut”. Pengamalan ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Aisyah. Ia berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Rasulullah Saw memerintahkan kepada kami agar menempatkan manusia pada tempatnya…
Hal ini sejalan juga dengan firman Allah Swt dalam surah Yusuf :76,
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيم
Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
Selayang Pandang Biografi Penulis
Beliau adalah al Imam ast Tsiqah Musnad Baghdad, Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad ad Duuri al ‘Aththar; dilahirkan pada tahun 233 H.
Mengenai ketekunannya dalam ilmu hadis, al Hafidz adz Dzahabi pernah berkata, “Beliau menulis banyak karya dan menaruh perhatian terhadap ilmu hadis. Beliau menyusun dan juga meriwayatkan”.
Beliau banyak meriwayatkan dari para guru-gurunya sehingga ia pernah menyusun sebuah Mu’jam, namun sayang Mu’jam tersebut tidak ada; hanya diketahui dari nukilan para ulama saja, seperti yang akan dibahas pada ucapan-ucapan penulisnya.
Beberapa dari guru dan murid beliau, sebagai berikut:
1 . Guru
a. Ibrahim bin Rasyid al Adami
b. Ahmad bin Ibrahim al Quhistani
c. Ahmad bin Sa’ad Abu Ibrahim az Zuhri
d. Ahmad bin Muhammad bin Anas al Qarabithi
e. Ishaq bin Ya’qub al ‘Aththar
f. Shalih bin Ahmad bin Hanbal
g. Qasim bin Harun bin Jumhur al ash Bahani
h. Laits bin al Farj Abul Abbas
i. Muhammad bin Ishaq ash Shagani
j. Harun bin Abbas al Hasyimi, dsb.
2. Murid
a. Ad Daruquthni
b. Abu Nu’aim al ash Bahani
c. Ibn Shalt al Ahwazi
d. Abu ‘Amr bin Mahdi
e. Yusuf bin Umar al Qawwas
f. Muhammad bin al Mudhaffar
g. Muhammad bin Bakran al Bazzaz, dsb.
Sebagai seorang ulama, beliau juga mendapat pujian dari ulama lainnya:
1. Imam ad Daruquthni pernah ditanya tentang beliau, ia menjawab, Tsiqah Ma’mun”.
2. Adz Dzahabi berkata, “Beliau menyusun banyak karya bersama pemahaman, pengetahuan, dan kebagusan susunannya”.
3. Adz Dzahabi juga pernah berkata, “Beliau disifati dengan ilmu, keshalehan, kejujuran, kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, panjang umur seta masyhur namanya, ketinggiannya setara dengan al Qadhi al Mahamili di Baghdad.
Itulah beberapa pujian dari para ulama yang pernah disematkan kepada beliau.
Beliau menyusun banyak karya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam adz Dzahabi, namun sayang seribu sayang tak banyak ada atau yang sampai kepada kita, mungkin masih banyak yang berupa Makhthuthah. Beberapa diantar karya beliau yang pernah disinggung oleh para ulama adalah sbb:
1. Kitab al Adab (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
2. Kitab as Sunan Fii al Fiqh (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
3. Al Musnad al Kabir (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
4. Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas
5. Mu’jam Syuyuukh (al Hafidz dalam Tarikh Baghdad)
6. Auraq Min Ahaditsihi Wa Amaaliihi (ar Risalah al Mustathrafah, di sana disebutkan bahwa kitab ini adalah juz yang berisi 90 hadis).
Demikian sekelumit mengenai penulis.
Mengenal Kitab “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”
Nama kitab ini adalah “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”. Pentahqiq (Awwad al Khalaf) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi alasan kuat kitab ini disandarkan kepada Muhammad Makhlad ad ‘Aththar yaitu:
1. Adanya sanad yang bersambung kepada beliau dengan rawi-rawi yang dikenal.
2. Adanya riwayat (sima’at) yang banyak atas juz tersebut.
3. Penyebutan Ibn Hajar dalam al Mu’jam al Mufahras dengan sanadnya yang bersambung kepada penulis.
4. Penyebutan as Sakhawi dalam Fath al Mugits yang menisbatkan kitab ini kepada penulisnya; yakni Muhammad Makhlad al ‘Aththar.
5. Demikian pula penyebutan Ibn Nashiruddin dalam kitabnya ar Ruwat ‘An Malik, “Sebagaimana Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar menyebutkannya dalam himpunannya, dalam “Ma Rawaahu al Akabir ‘an ash Shagir”.
Pentahqiq menyebutkan bahwa naskah yang sampai kepada kita dari kitab ini hanya ada 2. Setelah diteliti dengan ilmiah, juz tersebut hanya memuat bagian awal saja, yaitu yang sekarang berada di hadapan kita.
Kitab ini berisi 67 buah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik kepada rawi-rawi yang lebih senior dari dirinya, berikut sebagian di antaranya:
1. Riwayat az Zuhri dari Imam Malik.
2. Riwayat Yahya bin Sa’id dari Imam Malik
3. Riwayat Wahib dari Imam Malik
4. Riwayat ats Tsauri dari Imam Malik
5. Riwayat Hammad dari Malik
6. Syu’bah dari Malik
7. Auza’i dari Malik
8. Ibn Dhahman dari Malik
9. Ibn Juraij dari Malik
10. Zaid bin Aslam dari Malik, dsb.
Contoh Hadits
حَدَّثَنَا محمد, ثنا أبوالعباس أحمد بن محمد بن أنس القرطبي, ثنا أبو هبيرة الدمشقي, ثنا أبو كلثوم ثلامة بن بشر, ثنايزيد بن السمط عن الأوزاعي عن مالك—يعني ابن أنس—عن عبدالله بن دينارعن ابن عمر, عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ