This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

Hadits Nabi Dalam Sorotan: Sebuah Pengantar Menjelajah Pemikiran G.H.A Juynboll Tentang Otentisitas Hadits



Pengantar
               
“Kenali Musuhmu” (Know your Enemies) adalah semboyan dari missionaris di balik kegigihan mereka dalam mengkaji Islam beserta seluk beluknya dari segala aspek. Adalah naive apabila kita bersangka baik dan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tak kan pernah ridha dan senantiasa memusuhi kita. Lebih celaka lagi jika kita mengamini seraya meniru-niru (parroting) melakukan apa yang mereka kerjakan, seperti menghina Rasulullah saw, memburuk-burukkan para Sahabat dan Tabi’in, meremehkan para ulama salaf, meragukan otoritas dan otentisitas tradisi keilmuan Islam, lalu mau membuat critical edition of al-Quran, menolak hadits (inkar al-sunnah), membuat tafsir dan hukum sendiri mengikuti hawa nafsu yang sesat dan menyesatkan. Demikian kurang lebih apa yang pernah disampaikan oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam buku “Orientalis dan Diabolisme Pemikiran”.[2] Nama-nama seperti Ignas Goldziher, Alois Sprenger, Sir William Muir, Joseph Schacht, dan G.H.A Juynboll adalah termasuk bagian di dalamnya.

Kamis, 26 Juni 2014

Studi Kitab Maa Rawaahu al AKabir An Malik bin Anas

           
        Pembahasan perihal seorang rowi adalah salah satu dari cabang-cabang ilmu hadis. Cabang ilmu hadis yang satu ini, membahas dua hal yang ada dalam diri seorang rawi. Pertama, seputar pribadinya; dan yang kedua, namanya. 3 hal yang dibahas pada bagian yang pertama, yakni; periwayatan dari rawi yang lebih besar (senior) yang menerima dari yang lebih kecil (junior), periwayatan ayah dari anaknya dan sebaliknya—anak dari ayah--penj, serta periwayatan seorang rawi yang menerima hadis dari saudaranya.
            Pengertian Riwayah al Akabir ‘An ash Shagir adalah periwayatan dari rawi yang lebih besar (senior); baik itu dari segi usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya, yang menerima atau meriwayatkan hadis dari rawi yang lebih kecil (junior); baik dilihat dari usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya juga. [1]
            Asal dan akar pembahasan ini adalah riwayat Rasulullah Saw dari Tamim ad Daari; seorang Nasrani yang masuk Islam, yakni hadis tentang al Jassasah yang ada dalam kitab “Shahih Muslim”.[2]
            Kendati harus diakui bahwa memang satu karya khusus yang membahas tentang ilmu ini--Riwayah al Akabir ‘An al Shagir--sangat jarang, namu tak dapat dipungkiri bahwa ilmu ini termasuk ilmu yang sangat penting, karna itu dikatakan:[3]
لايكون الرجل محدثاحتي يأخذ عمن فوقه, ومثله, ودونه
Seseorang tidak akan menjadi muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, atau yang lainnya.
            Riwayah al Akabir ‘An al Shagir terbagi kepada 3 macam, yaitu;[4]
            Pertama, Rawi yang lebih besar (senior) dari yang lebih kecil (junior) dari segi  usia dan thabaqahnya. Contoh; az Zuhri dan Yahya bin Sa’id dari Malik. Dalam bagian yang pertama ini, contohnya ada dalam ar Rasyid al ‘Athar dengan karyanya berjudul “Al I’lam Bi Man Hadatsa ‘An Malik bin Anas, al Imam Min Masyayikhihi as Saadah al A’lam,” Kitab al Akabir ‘An ash Shagir karya Ibn Syahin, [5] dan Maa Rawaahu ‘An Malik bin Anas karya Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar.
            Kedua, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dengan perkiraan, dilihat dari segi; bahwa yang meriwayatkan lebih ’alim dan faqih. Dan yang menerima riwayat hanya seorang syaikh biasa. Seperti riwayat Imam Malik dari Abdullah bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rawahahaih dari ‘Ubaidillah bin Musa al ‘Abbasi dalam kitab “Asybah”.
            Ketiga, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dari dari keduanya—dua segi di atas—yakni dari segi usia, thabaqah, serta ke’aliman dan kefaqihannya. Ini seperti riwayat banyak ulama dari para sahabat dan murid-murid mereka. Contoh ‘Abdul Ghina al Azdi (W. 409 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Ali ash Shuuri (W. 441 H); Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al Barqani (W. 425 H) dari Abu Bakar al Khatib (W. 463 H); al Khatib dai Abu Nashr al Amir Ibn Makulaa (W. 478 H).
            Mengenai urgensi dan faidah dari ilmu ini,  secara lebih rinci adalah sebagai berikut:
1.    Ibn Shalah            : “Di antara faidah dari ilmu ini adalah untuk meniadakan kewahman tentang mana yang lebih akbar dan lebih utama dari seorang rawi... ”.[6]
2.   Al Hafidz as Sakhawi: “Ilmu ini adalah bidang penting yang menuntun kepada cita-cita yang tinggi dan jiwa yang suci, karena itu dikatakan, “Tidaklah seseorang disebut sebagai muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, dan yang berada di bawahnya.[7]
3.   Menjaga dari kekhawatiran inqilab (terbaliknya) sanad, dengan kata lain mencegah dari menyebutkan riwayat dari “yang senior” dengan menyebutkan “yang junior” atau sebaliknya, dan kemudian memalingkan orang-orang dalam meriwayatkan dari rawi tersebut”.[8] Pengamalan ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Aisyah. Ia berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Rasulullah Saw memerintahkan kepada kami agar menempatkan manusia pada tempatnya…
            Hal ini sejalan juga dengan firman Allah Swt dalam surah Yusuf :76,
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيم
Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
Selayang Pandang Biografi Penulis[9]
            Beliau adalah al Imam ast Tsiqah Musnad Baghdad, Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad ad Duuri al ‘Aththar; dilahirkan pada tahun 233 H.
            Mengenai ketekunannya dalam ilmu hadis, al Hafidz adz Dzahabi pernah berkata, “Beliau menulis banyak karya dan menaruh perhatian terhadap ilmu hadis. Beliau menyusun dan juga meriwayatkan”.
            Beliau banyak meriwayatkan dari para guru-gurunya sehingga ia pernah menyusun sebuah Mu’jam, namun sayang Mu’jam tersebut tidak ada; hanya diketahui dari nukilan para ulama saja, seperti yang akan dibahas pada ucapan-ucapan penulisnya.
            Beberapa dari guru dan murid beliau, sebagai berikut:
   1   .  Guru
a.      Ibrahim bin Rasyid al Adami
b.      Ahmad bin Ibrahim al Quhistani
c.       Ahmad bin Sa’ad Abu Ibrahim az Zuhri
d.      Ahmad bin Muhammad bin Anas al Qarabithi
e.      Ishaq bin Ya’qub al ‘Aththar
f.        Shalih bin Ahmad bin Hanbal
g.      Qasim bin Harun bin Jumhur al ash Bahani
h.     Laits bin al Farj Abul Abbas
i.        Muhammad bin Ishaq ash Shagani
j.        Harun bin Abbas al Hasyimi, dsb.
2.   Murid
a.      Ad Daruquthni
b.      Abu Nu’aim al ash Bahani
c.       Ibn Shalt al Ahwazi
d.      Abu ‘Amr bin Mahdi
e.      Yusuf bin Umar al Qawwas
f.        Muhammad bin al Mudhaffar
g.      Muhammad bin Bakran al Bazzaz, dsb.
     Sebagai seorang ulama, beliau juga mendapat pujian dari ulama lainnya:
1.    Imam ad Daruquthni pernah ditanya tentang beliau, ia menjawab, Tsiqah Ma’mun”.
2.   Adz Dzahabi berkata, “Beliau menyusun banyak karya bersama pemahaman, pengetahuan, dan kebagusan susunannya”.
3.   Adz Dzahabi juga pernah berkata, “Beliau disifati dengan ilmu, keshalehan, kejujuran, kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, panjang umur seta masyhur namanya, ketinggiannya setara dengan al Qadhi al Mahamili di Baghdad.
Itulah beberapa pujian dari para ulama yang pernah disematkan kepada beliau.
Beliau menyusun banyak karya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam adz Dzahabi, namun sayang seribu sayang tak banyak ada atau yang sampai kepada kita, mungkin masih banyak yang berupa Makhthuthah. Beberapa diantar karya beliau yang pernah disinggung oleh para ulama adalah sbb:
1.       Kitab al Adab (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
2.      Kitab as Sunan Fii al Fiqh (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
3.      Al Musnad al Kabir (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
4.      Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas
5.      Mu’jam Syuyuukh (al Hafidz dalam Tarikh Baghdad)
6.      Auraq Min Ahaditsihi Wa Amaaliihi (ar Risalah al Mustathrafah, di sana disebutkan bahwa kitab ini adalah juz yang berisi 90 hadis).
Demikian sekelumit mengenai penulis.
Mengenal Kitab “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”
            Nama kitab ini adalah “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”. Pentahqiq (Awwad al Khalaf) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi alasan kuat kitab ini disandarkan kepada Muhammad Makhlad ad ‘Aththar yaitu:[10]
1.    Adanya sanad yang bersambung kepada beliau dengan rawi-rawi yang dikenal.
2.   Adanya riwayat (sima’at) yang banyak atas juz tersebut.
3.   Penyebutan Ibn Hajar dalam al Mu’jam al Mufahras dengan sanadnya yang bersambung kepada penulis.
4.   Penyebutan as Sakhawi dalam Fath al Mugits yang menisbatkan kitab ini kepada penulisnya; yakni Muhammad Makhlad al ‘Aththar.
5.    Demikian pula penyebutan Ibn Nashiruddin dalam kitabnya ar Ruwat ‘An Malik, “Sebagaimana Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar menyebutkannya dalam himpunannya, dalam “Ma Rawaahu al Akabir ‘an ash Shagir”.
Pentahqiq menyebutkan bahwa naskah yang sampai kepada kita dari kitab ini hanya ada 2. Setelah diteliti dengan ilmiah, juz tersebut hanya memuat bagian awal saja, yaitu yang sekarang berada di hadapan kita.
Kitab ini berisi 67 buah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik kepada rawi-rawi yang lebih senior dari dirinya, berikut sebagian di antaranya:
1.       Riwayat az Zuhri dari Imam Malik.
2.      Riwayat Yahya bin Sa’id dari Imam Malik
3.      Riwayat Wahib dari Imam Malik
4.      Riwayat ats Tsauri dari Imam Malik
5.      Riwayat Hammad dari Malik
6.      Syu’bah dari Malik
7.      Auza’i dari Malik
8.     Ibn Dhahman dari Malik
9.      Ibn Juraij dari Malik
10.  Zaid bin Aslam dari Malik, dsb.
Contoh Hadits
حَدَّثَنَا محمد, ثنا أبوالعباس أحمد بن محمد بن أنس القرطبي, ثنا أبو هبيرة الدمشقي, ثنا أبو كلثوم ثلامة بن بشر, ثنايزيد بن السمط عن الأوزاعي عن مالك—يعني ابن أنس—عن عبدالله بن دينارعن ابن عمر, عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ



[1] Muhamad bin Mathar az Zahraani, Ilmu ar Rijal: Nasyatuhu Wa Tathawwuruhu Min al Qarni al Awwal Ila Nihaayah al Qarni at Taasi’, Dar al Khuadhairi. Lihat juga Thaariq ‘Audhullah Muhammad, Tadrib ar Rawi Fii Syarh Taqrib an Nawawi Wa Yaliihi Kitab al Mukhtashor al Haawi Li Muhimmat Tadrib ar Raawi ‘Abdurrahman bin Abi Bakar as Suyuthi, Riyadh, Dar al ‘Ashimah, Cetakan pertama, thn. 1424 H/2003 M, jld. 1, hal. 456.
[2] Riwayah al Jassaasah dalam kitab  Shahih Muslim:
“.... Aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari, seorang laki-laki yang semula beragama Kristen, datang untuk berbai'at dan masuk Islam. Ia telah menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah saya sampaikan kepada kalian tentang Dajjal. Tamim Ad-Dari pernah berkata kepadaku, bahwasanya ia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang laki-laki dari suku Lakhm dan Judzam. Selama sebulan penuh gelombang laut menghantam perahu mereka. Kemudian mereka menepi ke sebuah pulau di arah barat. Mereka duduk pada perahu bagian atas dan akhirnya berhasil memasuki pulau tersebut. Setelah itu mereka bertemu dengan suatu makhluk yang berbulu sangat lebat hingga mereka tidak dapat membedakan antara depan dan belakang, karena begitu banyaknya bulu yang tumbuh pada tubuhnya. "Siapakah kamu ini hai makhluk berbulu?" tanya mereka. Makhluk berbulu itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Mereka bertanya lagi, "Apakah Jassasah itu?" Makhluk itu berkata, "Hai sekalian manusia, pergilah kalian kepada seorang laki-laki di suatu biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian." Tamim Ad-Dari berkata, "Ketika makhluk Al Jassasah itu menyebutkan kepada kami tentang seorang laki-laki itu, maka kami langsung meninggalkannya, karena kami takut jangan-jangan ia adalah syetan." Tamim Ad-Dari sekali lagi berkata, "Kami segera pergi hingga akhirnya kami masuk ke dalam pulau tersebut. Tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang sangat besar yang belum pernah kami melihat orang yang sebesar dan sekekar itu. Kedua tangan orang tersebut terbelenggu pada lehernya dan kedua kakinya dirantai dengan besi antara kedua lutut hingga kedua mata kakinya. Kemudian kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini ?" Orang itu menjawab, "Bukankah kalian telah memperoleh sedikit informasi tentang diriku, maka sekarang beritahukanlah kepadaku siapakah kalian sebenarnya?" Kami menjawab, "Kami adalah orang-orang yang berasal dari Arab. Kami berlayar mengarungi laut dengan menggunakan perahu. Kemudian kami terbawa ke tengah laut pada saat gelombang laut mulai membesar. Ombak besar telah mengombang-ambingkan perahu kami selama satu bulan penuh hingga akhirnya kami menepi di pulau ini. Lalu kami duduk di bagian atas perahu sehingga kami dapat memasuki pulau ini. Tak lama kemudian, kami bertemu dengan makhluk yang berbulu lebat hingga kami tidak dapat membedakan antara bagian depan dan bagian belakang tubuhnya. Lalu kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini?" Makhluk berbulu lebat itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Lalu kami bertanya lagi, "Siapakah Al Jassasah itu?" Makhluk itu menjawab, "Sekarang pergilah kalian kepada seorang laki-laki di sebuah biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian. Oleh karena itu, maka kami pun segera mendatangimu. Karena kami merasa khawatir kepada Al Jassasah, jangan-jangan ia adalah syetan yang berbulu lebat." Laki-laki di biara itu bertanya, "Hai rombongan pengendara perahu, beritahukanlah kepadaku tentang kebun kurma Baisan?" Kami bertanya, "Tentang hal apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bertanya tentang pohon kurma kepada kalian, apakah ia telah berbuah?" Kami menjawab, "Ya. Pohon kurma itu telah berbuah.' Laki-laki itu berkata, "Pohon kurma tersebut sebentar lagi tidak akan berbuah." Laki-laki itu bertanya lagi, 'Beritahukanlah kepadaku tentang telaga Thabariyyah?" Kami balik bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu berkata, "Apakah telaga tersebut ada airnya?" Kami menjawab, "Air telaga tersebut sangat banyak." Laki-laki itu berkata, " Sebentar lagi air telaga itu akan habis." Laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang mata air Zughar?" Seperti biasa, kami balik bertanya, "Mengenai apa yang akan kamu tanyakan?" Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah mata air tersebut masih ada airnya dan apakah orang-orang di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya?" Kami menjawab, "Ya, air mata tersebut masih banyak dan masyarakat di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya." Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang seorang nabi utusan Allah yang ummi, apa yang telah ia lakukan?" Kami menjawab, "Nabi tersebut telah keluar dari kota Makkah dan menetap di kota Yatsrib {Madinah}." Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah nabi itu dimusuhi oleh orang Arab?" Kami menjawab, "Ya, ia selalu dimusuhi orang Arab." Laki-laki itu terus bertanya, "Bagaimana upaya nabi tersebut dalam menghadapi mereka?" Kami menjawab, "Nabi itu telah berhasil dalam dakwahnya atas dukungan orang-orang Arab yang mengikuti dan mematuhinya.' Laki-laki itu bertanya, "Sudahkah nabi itu meraih kesuksesannya?' Kami menjawab, "Ya." Laki-laki itu berkata, "Sungguh lebih baik apabila orang Arab itu mematuhinya. Sekarang, baiklah aku akan memberitahukan kepada kalian tentang diriku! Sesungguhnya aku ini adalah Al Masih Dajjal dan sebentar lagi aku telah diizinkan untuk keluar. Setelah itu, aku akan menjelajahi dunia hingga tidak ada satu kampung pun yang tidak aku singgahi dalam jangka waktu empat puluh malam, kecuali kota Makkah dan Thaybah {Madinah}. Aku dihalangi untuk memasuki kedua kota tersebut. Setiap kali aku berupaya untuk memasuki salah satunya, maka seorang malaikat akan menghadangku yang siap sedia dengan pedang di tangannya. Sementara itu, di setiap penjuru kota Makkah dan Madinah ada beberapa malaikat yang menjaganya." Fatimah binti Qais berkata, "Rasulullah SAW pernah bersabda sambil menekan tongkatnya pada mimbar, 'ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah {yaitu Madinah}. Bukankah aku telah memberitahukan hal ini kepadamu?' Para sahabat menjawab, "Ya, engkau telah memberitahukannya kepada kami." Kemudian Rasulullah berkata, 'Ucapan Tamim Ad-Dari sangat mengherankanku. Karena ucapannya itu sesuai dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian mengenai kota Makkah dan Madinah. Sebenarnya, peristiwa yang diceritakannya itu terjadi di laut Syam atau laut Yaman dan bahkan berasal dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur.' Beliau berkata seperti itu sambil menunjuk tangan beliau ke arah timur. Fatimah berkata, "Aku menghafal hadits ini dari Rasulullah SAW.”
[3] Syamsuddin al Sakhawi al Syafi’i, Fath al Mughits Bi Syarh Alfiyyah al Hadits, Riyadh, Dar al Minhaj, cetakan pertama, thn. 1426 H, jld. 4, hal. 124.
[4] Muhamad bin Mathar az Zahraani, Ilmu ar Rijal: Nasyatuhu Wa Tathawwuruhu, hal. 252-253.
[5] Muhammad bin Makhlad ad Duuri, Maa Rawaahu al Akaabir ‘An Malik Bin Anas, hal. 12.
[6] Abu Amr Utsman bin Abd al Rahman al Syahrazauri, Ulum al Hadits Li Ibn Shalah, Damaskus, Dar al Fikr, thn. 1986 M/1406 H, hal. 307
[7] Syamsuddin al Sakhawi al Syafi’i, Fath al Mughits Bi Syarh Alfiyyah al Hadits, Riyadh, jld. 4, hal. 124.
[8] Ibid.
[9] Lihat tulisan pentahqiq; ‘Awwad al Khalaf dalam Kitab “Maa Rawaahu al Akabir ‘An ash Shagir”, hal. 14-17.
[10] Muhammad bin Makhlad ad Duuri, Maa Rawaahu al Akaabir ‘An Malik Bin Anas, hal. 19.

Ilmu Gharib al Hadits



Pendahuluan
            Sebagai sumber hukum Islam ke-dua setelah al-Quran, hadis memang harus dipelihara, dijaga, dan tentunya diamalkan. Posisi hadis yang sangat esensial sangat dipahami oleh generasi sepanjang masa. Itulah sebabnya berbagai cara dilakukan demi terpeliharanya sumber Islam ini. Tak sedikit dari mereka yang rela melakukan perjalanan (rihlah) jauh hanya untuk mendengar satu hadis saja.
            Dan karena posisinya yang esensial ini lah, maka amatlah mesti adanya pemahaman yang menyeluruh terhadap setiap lafad atau kalimat dalam hadis, sehingga didapatkan pemahaman yang utuh dan tidak parsial atau setengah-setengah. Ini pula sepertinya, yang di satu sisi membuktikan bahwa hadis adalah juga wahyu dari Allah Swt melalui lisan Nabi Muhammad Saw. karena nyatanya banyak lafad yang asing (Gharib), yang tidak langsung bisa dipahami begitu saja. Serupa dengan yang terjadi terhadap lafad-afad al-Quran.
Kita tentu pernah mendengar bagaimana seorang sahabat; mufassir yang mempunyai gelar turjumanul quran seperti Ibn Abbas pada awalnya tidak tahu makna dari فطر (fathara) sampai ia mendengar perselisihan dua orang Arab mengenai kepemilikan sebuah sumur, hingga akhirnya setelah tanpa sengaja memperhatikan percakapan orang Arab tersebut, barulah Ibn Abbas memahami bahwa arti dari  فطر (fathara) adalah yang pertama kali menciptakan. Ibn Abbas mengetahuinya dari kata-kata yang digunakan orang Arab tersebut dalam percakapannya.
             Hal yang demikian terjadi dalam hadis. Ada lafad-lafad yang tidak bisa langsung dipahami maknanya oleh para ahli hadis, sehingga lahirlah dalam ilmu hadis, satu cabang ilmu yang disebut dengan ilmu gharib al-hadits.

Pengertian Ilmu Gharib al-Hadits
            Ditinjau dari segi bahasa, غريب (Gharib) diambil dari akar kata غرب yang berarti بعيد عن وطنه (Ba’idun ‘an wathanihi) yakni jauh dari rumah atau tempat tinggal.[1] Orang yang tidak sedang di rumah atau tempat tinggalnya kita katakan asing. Imam Abu Sulaiman al-Khattabi berkata: “asing dalam perkataan adalah jauh dari pemahaman seperti jauhnya seseorang dari rumah atau tempat tinggalnya”.[2] Atau ada pula yang mengatakan bahwa asing dalam perkataan adalah jauhnya makna dari pemahaman kecuali setelah melalui prosese pemikiran.[3] Sederhananya Dr. Mahmud Thahan mendefinisikan غريب secara bahasa adalah “lafad-lafad yang tersembunyi maknanya”.[4] Inilah makna غريب secara bahasa.
Sedangkan menurut istilah, makna غريب dalam konteks ilmu hadis adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh para pakar; yakni sebagai berikut:
            Pertama, Ibn Katsir dalam kitabnya al-Ba’its al-Hatsits  mengenalkan bahwa gharib al-hadits adalah:
من المهمات المتعلقة بفهم الحديث والعلم والعمل به, لا بمعرفة صناعة الاسناد وما يتعلق به.
Hal-hal penting yang berkaitan dengan pemahaman, ilmu dan pengaplikasian suatu hadis. Bukan mengenai pengenalan struktur dan hal-hal yang berkaitan dengan sanad.[5]
Kedua, Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi Syarh Taqrib an-Nawawi menjelaskan Gharib al-Hadits sebagai berikut:
ما وقع فى متن الحديث من لفظة غامضة بعيدة من الفهم لقلة استعما لها.
Apa-apa yang ada dalam matan hadis dari lafad samar yang jauh dari pemahaman, dikarenakan sedikit penggunaannya.[6]
Gharib al-hadits ini adalah cabang ilmu yang penting, bergelut dalam ilmu ini adalah sulit sehingga mengharuskan panjang lebar pembicaraannya, karena kita tidak boleh menafsirkan perkataan Nabi Saw. sembarangan dengan prasangka.[7]
Ketiga, Nuruddin ‘Itr dalam Manhaj an-Naqd, menjelaskan sebagai berikut:
غريب الحديث: ما وقع فى متون الأحاديث من الألفاظ الغامضة البعيدة عن الفهم.
Gharib al-Hadits adalah Apa-apa yang ada dalam matan hadis-hadis dari lafad-lafad samar yang jauh dari pemahaman.[8]
            Keempat, Abu Zahrah dalam al-Hadits wa al-Muhadditsuun.
غريب الحديث ما يقع فيه من كلمات غامضة بعيدة من الفهم لقلة استعما لها.
Gharib al-Hadits adalah Apa-apa yang ada di dalam hadis, kalimat-kalimat samar yang jauh dari pemahaman karena sedikit penggunaannya.[9]
            Demikian pengertian Gharib al-Hadits menurut para pakar yang secara esensial sama, hanya sedikit berbeda dalam redaksinya saja. Dari definisi-definisi di atas pula dapat dengan mudah kita simpulkan bahwa objek yang menjadi kajian ilmu ini adalah terfokus kepada matan hadis bukan sanadnya. Mencakup kalimat-kalimat asing yang artinya tidak diketahui karena memang jarang digunakan dalam percakapan, juga mencakup susunan kalimatnya yang sukar. Sehingga dengan ilmu ini bisa megurangi kecenderungan untuk menafsirkan perkataan Nabi Saw dengan cara menduga-duga.

Latar Belakang Munculnya Ilmu Gharib al-Hadits
            Rasulullah Saw adalah orang Arab yang paling fasih lisannya, sehingga ketika beliau berbicara kepada delegasi-delegasi orang Arab dari berbagai kabilah dengan perbedaan lisan-lisannya, mereka dapat memahami apa yang beliau katakan. Begitupun para sahabat, mereka adalah orang-orang yang paling memahami apa yang beliau katakan, kalaupun ada yang tidak mereka mengerti, niscaya mereka menanyakannya kepada beliau. Sehingga segala urusan dapat sampai pada kebenaran Rasulullah Saw. [10]
            Pada masa sahabat, sebelum adanya berbagai penaklukan negri-negri, lisan orang Arab sangatlah baik. Namun setelah banyaknya orang ‘azam luar Arab yang masuk Islam, maka mulailah banyak terjadi percampuran, hingga berkembang jaman baru di mana lisan orang Arab bercampur dengan orang-orang ‘azam luar Arab. Pada masa Tabi’in, bahasa  Arab terus bercampur sedikit demi sedikit. Sehingga ketika masa tabi’in berlalu, lisan orang Arab berubah, akibatnya orang-orang kesulitan memahami hadis Nabi saw.[11]
            Hal ini terus berlangsung sampai Allah Swt mengilhamkan kepada para aimmatuddin untuk mengobati penyakit ini. Maka para Imam mutaakhkhirin dari atba’ at-tabi’in seperti Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, dan Syu’bah bin Hajjaj mulai sibuk membicarakan keghariban hadis-hadis Nabi Saw.[12]
            Begitu pun banyak dari ulama setelah mereka, yang sangat memperhatikan ilmu ini. Suatu saat Imam Ahmad pernah ditanya tentang satu huruf yang gharib maka ia berkata, “Tanyakanlah kepada orang yang mempunyai keahlian dalam bidang tersebut, karena aku tidak suka berbicara mengenai perkataan Rasulullah Saw dengan prasangka semata dan kemudian aku salah.”[13]
            Dari sinilah mulai disusun berbagai kitab mengenai gharib al-hadits yang Insya Allah akan penulis sebutkan beberapa di antaranya pada pembahasan didepan.

Kitab-kitab Gharib al-Hadits
            Secara umum, yang dimaksud dengan kitab Gharib adalah kitab-kitab yang mengumpulkan kalimat-kalimat gharib dan sukar maknanya baik itu dari al-Quran maupun hadis.[14] Ada sedikit perbedaan pendapat mengenai siapa orang yang pertama menyusun kitab Gharib al-Hadits, ada yang berkata yang pertama kali adalah Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna at-Tamimi (W. 210 H),[15] ada pula yang berpendapat bahwa yang pertama kali adalah Abu Hasan an-Nadhri bin Syamil al-Mazini (W. 203 H).[16]
Terlepas dari perbedaan tersebut, berikut kitab-kitab tentang Gharib al-Hadits yang telah disusun oleh para ulama:
a)     Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid al-Qasim in Salam (W. 224 H). Sudah dicetak dalam 4 jilid.
b)     Gharib al-Hadits karya Muhammad bin Ziyad yang lebih dikenal dengan nama Ibn al-A’rabi (W. 231 H).
c)      Gharib al-Hadits karya Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (W. 276 H). Kitab ini adalah catatan tambahan dan perbaikan atas kitab Abu Ubaid al-Qasim bin Salam. Sudah dicetak dalam 3 jilid.
d)     Gharib al-Hadits karya Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al-Harbi (W. 285 H).
e)     Gharib al-Hadits karya Abu Sulaiman Hamd al-Khattabi (W. 388 H)
f)       Al-Ghariibiin (Gharib al-Quran wa al-Hadits) karya Abu Ubaid Ahmad bin Muhammad al-Harwi (W. 401 H).
g)     Al-Faiq fii Gharib al-hadits karya Abu Qasim JaaralLahu Mahmud bin ‘Amr az-Zamakhsyari al-Mu’t azili (W. 538 H).
h)     Gharib al-Hadits karya Abu al-Farj Ibn al-Jauzi (W. 597 H).
i)       An-Nihayah fii Gharib al-Hadits karya Majiuddin al-Mubarak bin Muhammad al-Jazari yang lebih dikenal dengan nama Ibn al-Atsir (W. 606 H).[17]

Contoh Hadits Yang Mengandung Kalimat Gharib
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ»[18]
            Kalimat بدنة dalam hadis tersebut dimutlakkan kepada unta dan sapi. Para ulama berkata bahwa yang dimaksud adalah unta, dan sungguh telah diriwayatkan dalam karya Abd ar-Razzaq dengan lafad فله من الاجر مثل الجزور “maka baginya pahala seperti menyembelih unta”.[19]

Daftar Pustaka
‘Itr Nuruddun, Manhaj an-Naqd fii Ulum al-Hadits, Damaskus, Dar al-Fikr, cet. 3, thn.             1997.
Abu Zahrah Muhammad, al-Hadits wa al-Muhadditsun: Inayah al-Ummah al-Islamiyyah         bi as-Sunnah an-Nabawiyyah, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, cetakan pertama,          thn. 1984.
Az-Zahrani Muhammad, Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyyah: Nasy’atuhu wa     Tathawwuruhu min al-Qarni al-Awwal ila Nihayah al-Qarni at-Tasi’ al-Hijri,         Riyadh, Dar al-Hijrah, cetakan pertama, thn. 1996.
Katsir Ibn, al-Ba’its al-Hatsits: Syarh ‘Ulum al-Hadits, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan        pertama, thn. 2005.
As-Suyuthi Jalaluddin, Tadrib ar-Rawi fii Syarh Taqri an-Nawawi, Kairo, Maktabah Dar          at-Turats, cet. 3, thn. 2005.
Thahan Mahmud, Taisir Musthalah al-Hadits, Singapur-Jeddah, Haramain, cetakan    pertama, thn. 1985.
Al-Khatib Muhammad ‘Ajjaj, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Damaskus,           Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 1989.
Mandlur Ibn,   Lisan al-Arab, Kairo, Dar al-Ma’arif.
Shahih Bukhari. (Dalam Maktabah Syamilah)
Shahih Muslim. (Dalam Maktabah Syamilah)




[1] Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, Kairo, Dar al-Ma’arif, hal. 3225.
[2] Abu Zahrah, al-Hadits wa al-Muhadditsun, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, cetakan pertama, thn. 1984 M/1404 H, hal. 474
[3] Ibid.
[4] Mahmud Thahaan, Taisir Musthalah al-Hadits, Singapur-Jeddah—Indonesia, al-Haramain, hal. 174.
[5] Ibn Katsir, al-Ba’its al-Hatsits: Syarh ‘Ulum al-Hadits, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 2005 M/1425-1426 H, hal. 117.
[6] Jalaluddin as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fii Syarh Taqri an-Nawawi, Kairo, Maktabah Dar at-Turats, cet. 3, thn. 2005 M/1426 H, hal. 403. Lihat juga Taisir Musthalah al-Hadits karya Mahmud Thahaan,  hal. 174.
[7] Ibid.
[8] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd, Damaskus, Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 1997, hal. 332.
[9] Abu Zahrah, al-Hadits wa al-Muhadditsun: ‘Inayah al-Ummah al-Islamiyyah bi as-Sunnah an-Nabawiyyah, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, cetakan pertama, thn. 1984 M/1404 H, hal. 474
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[13] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd, Damaskus, Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 1997, hal. 332.
[14] Muhammad bin Mathar az-Zahrani, Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyyah: Nasy’atuhu wa Tathawwuruhu min al-Qarni al-Awwal ila Nihayah al-Qarni at-Tasi’ al-Hijri, Riyadh, Dar al-Hijrah, cetakan pertama, thn. 1996 M/1417 H, hal. 217.
[15] Abu Zahrah, al-Hadits wa al-Muhadditsun: ‘Inayah al-Ummah al-Islamiyyah bi as-Sunnah an-Nabawiyyah, Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, cetakan pertama, thn. 1984 M/1404 H, hal. 475.
[16] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Damaskus, Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 1989 M/1409 H, hal. 281. Lihat juga al-Ba’its al-Hatsits karya Ibn Katsir hal. 117.
[17] Muhammad bin Mathar az-Zahrani, Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyyah: Nasy’atuhu wa Tathawwuruhu min al-Qarni al-Awwal ila Nihayah al-Qarni at-Tasi’ al-Hijri, Riyadh, Dar al-Hijrah, cetakan pertama, thn. 1996 M/1417 H, hal. 218-220.
[18] Shahih Bukhari, Bab Fadhl al-Jum’ah, Juz. 2, hal. 3. Dan Shahih Muslim, Bab at-Thib wa as-Siwak Yaum al-Jum’ah, juz. 2, hal. 582. (Dalam maktabah syamilah).
[19] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd, Damaskus, Dar al-Fikr, cetakan pertama, thn. 1997, hal. 332.