Pengertian Riwayah al Akabir ‘An ash Shagir adalah periwayatan dari rawi yang lebih besar (senior); baik itu dari segi usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya, yang menerima atau meriwayatkan hadis dari rawi yang lebih kecil (junior); baik dilihat dari usia, thabaqah, atau derajat dan kedudukannya juga. [1]
Asal dan akar pembahasan ini adalah riwayat Rasulullah Saw dari Tamim ad Daari; seorang Nasrani yang masuk Islam, yakni hadis tentang al Jassasah yang ada dalam kitab “Shahih Muslim”.[2]
Kendati harus diakui bahwa memang satu karya khusus yang membahas tentang ilmu ini--Riwayah al Akabir ‘An al Shagir--sangat jarang, namu tak dapat dipungkiri bahwa ilmu ini termasuk ilmu yang sangat penting, karna itu dikatakan:[3]
لايكون الرجل محدثاحتي يأخذ عمن فوقه, ومثله, ودونه
Seseorang tidak akan menjadi muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, atau yang lainnya.
Pertama, Rawi yang lebih besar (senior) dari yang lebih kecil (junior) dari segi usia dan thabaqahnya. Contoh; az Zuhri dan Yahya bin Sa’id dari Malik. Dalam bagian yang pertama ini, contohnya ada dalam ar Rasyid al ‘Athar dengan karyanya berjudul “Al I’lam Bi Man Hadatsa ‘An Malik bin Anas, al Imam Min Masyayikhihi as Saadah al A’lam,” Kitab al Akabir ‘An ash Shagir karya Ibn Syahin, [5] dan Maa Rawaahu ‘An Malik bin Anas karya Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar.
Kedua, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dengan perkiraan, dilihat dari segi; bahwa yang meriwayatkan lebih ’alim dan faqih. Dan yang menerima riwayat hanya seorang syaikh biasa. Seperti riwayat Imam Malik dari Abdullah bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rawahahaih dari ‘Ubaidillah bin Musa al ‘Abbasi dalam kitab “Asybah”.
Ketiga, Rawi yang lebih besar dari yang lebih kecil dari dari keduanya—dua segi di atas—yakni dari segi usia, thabaqah, serta ke’aliman dan kefaqihannya. Ini seperti riwayat banyak ulama dari para sahabat dan murid-murid mereka. Contoh ‘Abdul Ghina al Azdi (W. 409 H) meriwayatkan dari Muhammad bin Ali ash Shuuri (W. 441 H); Abu Bakar Ahmad bin Muhammad al Barqani (W. 425 H) dari Abu Bakar al Khatib (W. 463 H); al Khatib dai Abu Nashr al Amir Ibn Makulaa (W. 478 H).
Mengenai urgensi dan faidah dari ilmu ini, secara lebih rinci adalah sebagai berikut:
1. Ibn Shalah : “Di antara faidah dari ilmu ini adalah untuk meniadakan kewahman tentang mana yang lebih akbar dan lebih utama dari seorang rawi... ”.[6]
2. Al Hafidz as Sakhawi: “Ilmu ini adalah bidang penting yang menuntun kepada cita-cita yang tinggi dan jiwa yang suci, karena itu dikatakan, “Tidaklah seseorang disebut sebagai muhaddits sampai ia meriwayatkan dari orang yang berada di atasnya, sama dengannya, dan yang berada di bawahnya.[7]
3. Menjaga dari kekhawatiran inqilab (terbaliknya) sanad, dengan kata lain mencegah dari menyebutkan riwayat dari “yang senior” dengan menyebutkan “yang junior” atau sebaliknya, dan kemudian memalingkan orang-orang dalam meriwayatkan dari rawi tersebut”.[8] Pengamalan ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Aisyah. Ia berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Rasulullah Saw memerintahkan kepada kami agar menempatkan manusia pada tempatnya…
Hal ini sejalan juga dengan firman Allah Swt dalam surah Yusuf :76,
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيم
Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.
Selayang Pandang Biografi Penulis[9]
Beliau adalah al Imam ast Tsiqah Musnad Baghdad, Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad ad Duuri al ‘Aththar; dilahirkan pada tahun 233 H.
Mengenai ketekunannya dalam ilmu hadis, al Hafidz adz Dzahabi pernah berkata, “Beliau menulis banyak karya dan menaruh perhatian terhadap ilmu hadis. Beliau menyusun dan juga meriwayatkan”.
Beliau banyak meriwayatkan dari para guru-gurunya sehingga ia pernah menyusun sebuah Mu’jam, namun sayang Mu’jam tersebut tidak ada; hanya diketahui dari nukilan para ulama saja, seperti yang akan dibahas pada ucapan-ucapan penulisnya.
Beberapa dari guru dan murid beliau, sebagai berikut:
1 . Guru
a. Ibrahim bin Rasyid al Adami
b. Ahmad bin Ibrahim al Quhistani
c. Ahmad bin Sa’ad Abu Ibrahim az Zuhri
d. Ahmad bin Muhammad bin Anas al Qarabithi
e. Ishaq bin Ya’qub al ‘Aththar
f. Shalih bin Ahmad bin Hanbal
g. Qasim bin Harun bin Jumhur al ash Bahani
h. Laits bin al Farj Abul Abbas
i. Muhammad bin Ishaq ash Shagani
j. Harun bin Abbas al Hasyimi, dsb.
2. Murid
a. Ad Daruquthni
b. Abu Nu’aim al ash Bahani
c. Ibn Shalt al Ahwazi
d. Abu ‘Amr bin Mahdi
e. Yusuf bin Umar al Qawwas
f. Muhammad bin al Mudhaffar
g. Muhammad bin Bakran al Bazzaz, dsb.
Sebagai seorang ulama, beliau juga mendapat pujian dari ulama lainnya:
1. Imam ad Daruquthni pernah ditanya tentang beliau, ia menjawab, Tsiqah Ma’mun”.
2. Adz Dzahabi berkata, “Beliau menyusun banyak karya bersama pemahaman, pengetahuan, dan kebagusan susunannya”.
3. Adz Dzahabi juga pernah berkata, “Beliau disifati dengan ilmu, keshalehan, kejujuran, kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, panjang umur seta masyhur namanya, ketinggiannya setara dengan al Qadhi al Mahamili di Baghdad.
Itulah beberapa pujian dari para ulama yang pernah disematkan kepada beliau.
Beliau menyusun banyak karya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam adz Dzahabi, namun sayang seribu sayang tak banyak ada atau yang sampai kepada kita, mungkin masih banyak yang berupa Makhthuthah. Beberapa diantar karya beliau yang pernah disinggung oleh para ulama adalah sbb:
1. Kitab al Adab (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
2. Kitab as Sunan Fii al Fiqh (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
3. Al Musnad al Kabir (disebutkan oleh Ibn Nadhim dalam al Fihris)
4. Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas
5. Mu’jam Syuyuukh (al Hafidz dalam Tarikh Baghdad)
6. Auraq Min Ahaditsihi Wa Amaaliihi (ar Risalah al Mustathrafah, di sana disebutkan bahwa kitab ini adalah juz yang berisi 90 hadis).
Demikian sekelumit mengenai penulis.
Mengenal Kitab “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”
Nama kitab ini adalah “Maa Rawaahu al Akabir ‘An Malik bin Anas”. Pentahqiq (Awwad al Khalaf) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi alasan kuat kitab ini disandarkan kepada Muhammad Makhlad ad ‘Aththar yaitu:[10]
1. Adanya sanad yang bersambung kepada beliau dengan rawi-rawi yang dikenal.
2. Adanya riwayat (sima’at) yang banyak atas juz tersebut.
3. Penyebutan Ibn Hajar dalam al Mu’jam al Mufahras dengan sanadnya yang bersambung kepada penulis.
4. Penyebutan as Sakhawi dalam Fath al Mugits yang menisbatkan kitab ini kepada penulisnya; yakni Muhammad Makhlad al ‘Aththar.
5. Demikian pula penyebutan Ibn Nashiruddin dalam kitabnya ar Ruwat ‘An Malik, “Sebagaimana Abu Abdullah Muhammad bin Makhlad al ‘Aththar menyebutkannya dalam himpunannya, dalam “Ma Rawaahu al Akabir ‘an ash Shagir”.
Pentahqiq menyebutkan bahwa naskah yang sampai kepada kita dari kitab ini hanya ada 2. Setelah diteliti dengan ilmiah, juz tersebut hanya memuat bagian awal saja, yaitu yang sekarang berada di hadapan kita.
Kitab ini berisi 67 buah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik kepada rawi-rawi yang lebih senior dari dirinya, berikut sebagian di antaranya:
1. Riwayat az Zuhri dari Imam Malik.
2. Riwayat Yahya bin Sa’id dari Imam Malik
3. Riwayat Wahib dari Imam Malik
4. Riwayat ats Tsauri dari Imam Malik
5. Riwayat Hammad dari Malik
6. Syu’bah dari Malik
7. Auza’i dari Malik
8. Ibn Dhahman dari Malik
9. Ibn Juraij dari Malik
10. Zaid bin Aslam dari Malik, dsb.
Contoh Hadits
حَدَّثَنَا محمد, ثنا أبوالعباس أحمد بن محمد بن أنس القرطبي, ثنا أبو هبيرة الدمشقي, ثنا أبو كلثوم ثلامة بن بشر, ثنايزيد بن السمط عن الأوزاعي عن مالك—يعني ابن أنس—عن عبدالله بن دينارعن ابن عمر, عن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ
[1] Muhamad bin Mathar az Zahraani, Ilmu ar Rijal: Nasyatuhu Wa Tathawwuruhu Min al Qarni al Awwal Ila Nihaayah al Qarni at Taasi’, Dar al Khuadhairi. Lihat juga Thaariq ‘Audhullah Muhammad, Tadrib ar Rawi Fii Syarh Taqrib an Nawawi Wa Yaliihi Kitab al Mukhtashor al Haawi Li Muhimmat Tadrib ar Raawi ‘Abdurrahman bin Abi Bakar as Suyuthi, Riyadh, Dar al ‘Ashimah, Cetakan pertama, thn. 1424 H/2003 M, jld. 1, hal. 456.
“.... Aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari, seorang laki-laki yang semula beragama Kristen, datang untuk berbai'at dan masuk Islam. Ia telah menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah saya sampaikan kepada kalian tentang Dajjal. Tamim Ad-Dari pernah berkata kepadaku, bahwasanya ia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang laki-laki dari suku Lakhm dan Judzam. Selama sebulan penuh gelombang laut menghantam perahu mereka. Kemudian mereka menepi ke sebuah pulau di arah barat. Mereka duduk pada perahu bagian atas dan akhirnya berhasil memasuki pulau tersebut. Setelah itu mereka bertemu dengan suatu makhluk yang berbulu sangat lebat hingga mereka tidak dapat membedakan antara depan dan belakang, karena begitu banyaknya bulu yang tumbuh pada tubuhnya. "Siapakah kamu ini hai makhluk berbulu?" tanya mereka. Makhluk berbulu itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Mereka bertanya lagi, "Apakah Jassasah itu?" Makhluk itu berkata, "Hai sekalian manusia, pergilah kalian kepada seorang laki-laki di suatu biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian." Tamim Ad-Dari berkata, "Ketika makhluk Al Jassasah itu menyebutkan kepada kami tentang seorang laki-laki itu, maka kami langsung meninggalkannya, karena kami takut jangan-jangan ia adalah syetan." Tamim Ad-Dari sekali lagi berkata, "Kami segera pergi hingga akhirnya kami masuk ke dalam pulau tersebut. Tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang sangat besar yang belum pernah kami melihat orang yang sebesar dan sekekar itu. Kedua tangan orang tersebut terbelenggu pada lehernya dan kedua kakinya dirantai dengan besi antara kedua lutut hingga kedua mata kakinya. Kemudian kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini ?" Orang itu menjawab, "Bukankah kalian telah memperoleh sedikit informasi tentang diriku, maka sekarang beritahukanlah kepadaku siapakah kalian sebenarnya?" Kami menjawab, "Kami adalah orang-orang yang berasal dari Arab. Kami berlayar mengarungi laut dengan menggunakan perahu. Kemudian kami terbawa ke tengah laut pada saat gelombang laut mulai membesar. Ombak besar telah mengombang-ambingkan perahu kami selama satu bulan penuh hingga akhirnya kami menepi di pulau ini. Lalu kami duduk di bagian atas perahu sehingga kami dapat memasuki pulau ini. Tak lama kemudian, kami bertemu dengan makhluk yang berbulu lebat hingga kami tidak dapat membedakan antara bagian depan dan bagian belakang tubuhnya. Lalu kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini?" Makhluk berbulu lebat itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Lalu kami bertanya lagi, "Siapakah Al Jassasah itu?" Makhluk itu menjawab, "Sekarang pergilah kalian kepada seorang laki-laki di sebuah biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian. Oleh karena itu, maka kami pun segera mendatangimu. Karena kami merasa khawatir kepada Al Jassasah, jangan-jangan ia adalah syetan yang berbulu lebat." Laki-laki di biara itu bertanya, "Hai rombongan pengendara perahu, beritahukanlah kepadaku tentang kebun kurma Baisan?" Kami bertanya, "Tentang hal apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bertanya tentang pohon kurma kepada kalian, apakah ia telah berbuah?" Kami menjawab, "Ya. Pohon kurma itu telah berbuah.' Laki-laki itu berkata, "Pohon kurma tersebut sebentar lagi tidak akan berbuah." Laki-laki itu bertanya lagi, 'Beritahukanlah kepadaku tentang telaga Thabariyyah?" Kami balik bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu berkata, "Apakah telaga tersebut ada airnya?" Kami menjawab, "Air telaga tersebut sangat banyak." Laki-laki itu berkata, " Sebentar lagi air telaga itu akan habis." Laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang mata air Zughar?" Seperti biasa, kami balik bertanya, "Mengenai apa yang akan kamu tanyakan?" Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah mata air tersebut masih ada airnya dan apakah orang-orang di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya?" Kami menjawab, "Ya, air mata tersebut masih banyak dan masyarakat di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya." Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang seorang nabi utusan Allah yang ummi, apa yang telah ia lakukan?" Kami menjawab, "Nabi tersebut telah keluar dari kota Makkah dan menetap di kota Yatsrib {Madinah}." Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah nabi itu dimusuhi oleh orang Arab?" Kami menjawab, "Ya, ia selalu dimusuhi orang Arab." Laki-laki itu terus bertanya, "Bagaimana upaya nabi tersebut dalam menghadapi mereka?" Kami menjawab, "Nabi itu telah berhasil dalam dakwahnya atas dukungan orang-orang Arab yang mengikuti dan mematuhinya.' Laki-laki itu bertanya, "Sudahkah nabi itu meraih kesuksesannya?' Kami menjawab, "Ya." Laki-laki itu berkata, "Sungguh lebih baik apabila orang Arab itu mematuhinya. Sekarang, baiklah aku akan memberitahukan kepada kalian tentang diriku! Sesungguhnya aku ini adalah Al Masih Dajjal dan sebentar lagi aku telah diizinkan untuk keluar. Setelah itu, aku akan menjelajahi dunia hingga tidak ada satu kampung pun yang tidak aku singgahi dalam jangka waktu empat puluh malam, kecuali kota Makkah dan Thaybah {Madinah}. Aku dihalangi untuk memasuki kedua kota tersebut. Setiap kali aku berupaya untuk memasuki salah satunya, maka seorang malaikat akan menghadangku yang siap sedia dengan pedang di tangannya. Sementara itu, di setiap penjuru kota Makkah dan Madinah ada beberapa malaikat yang menjaganya." Fatimah binti Qais berkata, "Rasulullah SAW pernah bersabda sambil menekan tongkatnya pada mimbar, 'ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah {yaitu Madinah}. Bukankah aku telah memberitahukan hal ini kepadamu?' Para sahabat menjawab, "Ya, engkau telah memberitahukannya kepada kami." Kemudian Rasulullah berkata, 'Ucapan Tamim Ad-Dari sangat mengherankanku. Karena ucapannya itu sesuai dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian mengenai kota Makkah dan Madinah. Sebenarnya, peristiwa yang diceritakannya itu terjadi di laut Syam atau laut Yaman dan bahkan berasal dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur.' Beliau berkata seperti itu sambil menunjuk tangan beliau ke arah timur. Fatimah berkata, "Aku menghafal hadits ini dari Rasulullah SAW.”
[3] Syamsuddin al Sakhawi al Syafi’i, Fath al Mughits Bi Syarh Alfiyyah al Hadits, Riyadh, Dar al Minhaj, cetakan pertama, thn. 1426 H, jld. 4, hal. 124.
[6] Abu Amr Utsman bin Abd al Rahman al Syahrazauri, Ulum al Hadits Li Ibn Shalah, Damaskus, Dar al Fikr, thn. 1986 M/1406 H, hal. 307
[7] Syamsuddin al Sakhawi al Syafi’i, Fath al Mughits Bi Syarh Alfiyyah al Hadits, Riyadh, jld. 4, hal. 124.
[9] Lihat tulisan pentahqiq; ‘Awwad al Khalaf dalam Kitab “Maa Rawaahu al Akabir ‘An ash Shagir”, hal. 14-17.







0 komentar:
Posting Komentar