Anggi Gusela
حدّثنى
عبدالله بن محمّد: حدّثنا عبدالرّزاق عن معمر عن همّام عن أبى هريرة رع. عن
النّبيّ ص قال :"خلق الله آدم وطولُه ستّون ذراعاً ثمّ قال: اِذهب فسلِّم على
أولئك من الملائكة فاستمِعْ ما يُحَيُّوْنَكَ,تحيّتك تحيّة ذرّيّتِك, فقال:
السّلام عليكم, فقالوا: السّلام عليك ورحمة الله, فزاده: ورحمة الله, فكلّ من يدخل
الجنّة على صورة آدم, فلم يزلِ الخلقُ ينقص حتّى الآن.
Abdullah
bin Muhammad telah memberitahukan kepadaku: Abdur Razaq telah memberitahukan
kepada kami dari Ma’mar dari Hammam dari Abi Hurairah r.a daru Nabi Saw. Dia
telah bersabda: “Allah menciptakan Adam sepanjang enam puluh hasta kemudian
dia berfirman: “Pergilah dan beri salam kepada para malaikat, maka dengarkanlah
dengan apa mereka akan menyalamimu, penghormatan kepadamu adalah penghormatan
kepada anak cucumu,” lalu Adam berkata: “ Assalamu ‘alaikum, maka para malaikat
menjawab : “Assalamu’alaika wa rahmatullah, mereka menambah dengan kalimat
‘warahmatullah’”. umat manusia terus menerus memendek hingga sekarang, namun
nantinya setiap orang yang masuk surga akan memiliki bentuk seperti Adam.”
Pendahuluan
Allah Swt. Telah menutup risalah
langit dengan risalah yang sempurna, risalah yang membawa kedamaian,
keselamatan, dan ketenangan, yaitu risalah Islam. Maka ia mengutus Nabi
Muhammad Saw. Sebagai Rasul dan pembawa petunjuk, dan menurunkan al-Mu’jizatul
Kubra dan Hujjah al-‘Udhma yaitu al-Quran al-Karim. Al-Quran
merupakan Asas, pokok, inti dan sumber utama syari’at, karena ia adalah kalam
atau firman Allah Swt. Yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. melalui
perantaraan malaikat Jibril al-Amin, yang mutawatir lafadznya, jadi
Ibadah membacanya, dan termaktub dalam mushaf-mushaf.
Setelah al-Quran, pokok dan sumber ajaran dalam Islam adalah sunnah
atau al-hadis. Hadis atau sunnah adalah semua yang datang dari
Rasulullah saw—selain al-quran—yang memiliki fungsi dan kedudukan sangat
penting dalam sempurnanya risalah Islam. Hadis atau sunnah ini berfungsi
sebagai penjelas hukum-hukum syari’at, tafshil—perinci—terhadap apa yang
ada dalam al-Qur’an, karena dalam al-Quran hukum-hukum syariat disebut secara
global saja. Hadis atau sunnah ini berasal dari wahyu ataupun ijtihad Rasulullah
sendiri, kecuali ijtihad Rasul yang
salah.
Sadar sesadar-sadarnya akan
pentingnya kedudukan hadis atau sunnah bagi tegaknya islam, maka musuh-musuh
Islam pun tidak tinggal diam--baik dari kalangan orientalis atau siapa saja
yang dengki dan tidak suka jika Islam jaya--dengan segala daya dan upaya, semua
tenaga dan usaha mereka curahkan, menyerang dan menghantam sumber ajaran Islam
yang kedua ini. Di antara usaha yang mereka lakukan adalah dengan mengkritik
para rawi bahkan sahabat dengan semua hadis yang diriwayatkannya. salah satunya
insya Allah akan penulis ulas dalam pembahasan kali ini, yakni kritik yang
dilontarkan kepada satu hadis dari Abu Hurairah tentang penciptaan Adam dan
keturunannya.
Syarah Hadis
Secara global, sesuai dengan judul bab yang
diberikan oleh Imam Bukhari, hadis yang dibawa oleh sahabat Abu Hurairah ini
menjelaskan sekelumit tentang penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s.
Dijelaskan dalam hadis ini, walau tidak dengan terperinci, mengenai bentuk dan
karakter fisik manusia pertama itu, kemudian disinggung juga tentang adanya syariat
salam.
Kritik Hadis
Sharafudden al-Musawi dalam bukunya
bertajuk ‘Menggugat Abu Hurairah: Menelusuri Jejak Langkah dan
Hadis-Hadisnya’ dengan semangat membara membuka kritiknya terhadap hadis
ini dengan cacian dan makiannya yang luar biasa terhadap Abu hurairah. sekilas
saya kutipkan kritikannya sebagai berikut:
“Hal ini--isi hadis
tersebut—tidak akan pernah dinisbatkan pada Nabi Muhammad Saw. Atau nabi-nabi
lainnya ataupun para wasinya. Barangkali Abu Huarairah mempelajarinya dari
orang Yahudi, seorang temannya yang bernama Ka’bul Ahbar atau beberapa orang
yang lainnya. Isi hadis ini persis sebagaimana paragraf ke-27 dari bab pertama
kitab Yahudi (perjanjian lama). Berikut adalah teks sebagaimana adanya, “Allah telah
menciptakan manusia seperti bentuk-Nya sendiri seperti bentuk Allah dia
ciptakan dia. Laki-laki serta perempuan, dia telah ciptakan mereka.”
Kemudian ia menambahkan, “Mahaagung
Allah dari melukiskan dia dengan pembentukan, pembatasan, serta keserupaan.
Mahaagung dia dan sesatlah mereka yang menisbatkan itu kepada-Nya. Mereka dapat
menafsirkan haadis itu dengan menempati kata ganti “wujudnya” pada Adam
sendiri, bukan kepada Allah. Jadi, pengertian hadis itu akan menjadi bahwa
Allah telah menciptakan Adam di surga dengan bentuk yang sama dengan ketika ia
diturunkan ke bumi. Bahwa Allah telah menyelesaikan dia dalam satu waktu serta
menjadikan dia dengan panjang 60 hasta serta lebar 7 hasta,. Bentuk yang sama,
yang anak keturunannya lihat, dan ia tidak berkembang dari satu keadaan ke
keadaan lain. Adam bukan sebuah benih yang menjadi gumpalan beku terus segumpal
daging kemudian menjadi tulang-tulang yang ditutupi daging terus kemudian janin
selanjutnya seorang bayi yang menyusui kenudian seorang anak yang disapih terus
remaja kemudian seorang laki-laki dengan panjang dan lebar yang normal.”
Di akhir kritikannya ia memberikan
sebuah catatan, “Pertama, jika Adam memiliki panjang 60 hasta, maka
menurut kesesuaian organ-organnya, lebarnya harus 17 hasta (penj,--tujuh belas
sepertujuh hasta). Apabila lebarnya 7 hasta, maka panjangnya harus 24,5 hasta,
sebab lebar manusia normal sama dengan dua per tujuh panjangnya. Mengapa Abu
Hurairah mengatakan bahwa Adam memiliki panjang 60 hasta serta lebar 7 hasta?
Apakah Adam memiliki struktur tubuh yang tidak serasi, serta rupa atau bentuk yang jelek? Tentu tidak! Allah
berfirman, “sesungguhnya kami telah ciptakan manusia dengan sebaik-baiknya
bentuk. (QS. At-Tin:4).” Kedua, salam dalam Islam dibuat ketika Islam
datang. Nabi Muhammad bersabda, “kaum Yahudi tidak iri pada kalian akan sesuatu
sebesar iri mereka terhadap salam kalian.” Apabila ucapan salam itu tidak berkaitan
dengan umat ini saja, orang-orang Yahudi tidak akan iri tentangnya. Bagaimana
Abu Hurairah mengatakan, “ketika Allah telah menciptakan Adam, Dia berfirman
kepada Adam,’pergilah untuk menyalami malaikat-malaikat itu dan dengarkan
dengan apa mereka akan menyalamimu.” Apa yang akan peneliti bijak katakan
tentang hadis ini? Dan apa yanng akan mereka katakan bahwasannya orang-orang
mulai memendek sejak itu sampai sekarang?.”
Tanggapan terhadap Kritik al-Musawi
Perbedaan pendapat pada kalimat “Khalaqallahu Aadama ‘ala shuuratihi”
mengenai kamana dhomir pada kalimat tersebut kembali? Ibn Hajar berkata:
“dhomir itu kembali kepada Adam bukan kepada Allah.” Lalu ia mengetengahkan
sebuah riwayat dari Tirmidzi, Nasa’i,
dan Bazzar yang di shahihkan oleh Ibn Hibban melalui Sa’id al-Muqbiri dari Abu
Hurairah secara marfu, “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan Adam dari tanah,
maka ia menjadikannya dari tanah liat kemudian membiarkannya hingga ia jadi
lumpur yang diatur, Allah menciptakannya dan membentuknya kemudian
membiarkannya, sehingga kala ia menjadi tanah liat seperti keramik Iblis
melewatinya dan berkata: “sungguh Engkau menciptakan suatu urusan yang agung.”
Kemudian Allah meniupkan ruh kepadanya, dan ruh pertama yang ditiupkannya
adalah penglihatan dan rongga belakang hidung, maka ia bersin lalu berkata:
‘alhamdulillah’, maka Allah berfirman:’yarhamukallah.’”[1]
Jika merujuk kepada riwayat yang
diketengahkan oleh Ibn hajar, maka berarti Adam ketika diciptakan tidak lantas
langsung menjadi manusia, akan tetapi melalui beberapa proses terlebih dahulu.
Kemudian Ibn Hajar dalam fathul bari juga menjelaskan bahwa tidak ada
manusia kecuali berawal dari nutfah, ini jadi bantahan bagi kaum kafir.
Kemudian mengenai syari’at Salam Ibn
Hajar juga menjelaskan bahwa pada lafadz
“ tahiyyatuka wa tahiyyatu dzurriyyatuka”, menunjukan bahwa salam
sebagai penghormatan itu sudah ada sejak dahulu, adapun mengenai dengkinya
orang Yahudi kepada Salam tersebut, hanya dengki karena tidak ingin kaum Muslim
tenang, selamat, dan bahagia,. Sebenarnya mereka juga punya salam-salam yang
sering mereka ucapkan jika mereka bertemu dengan sesama mereka, akan tetapi
lafadnya berbeda-beda, mungkin, pada awalnya sama dengan orang Islam, tapi
kemudian mereka sendiri yang merubahnya, karena jangankan Salam, kitab
sucipun ,mereka berani merubahnya sesuai dengan hawa nafsu mereka. Wallahu
A’lam.






0 komentar:
Posting Komentar