Rabu, 05 Februari 2014

Penciptaan Adam dan Anak Cucunya


Anggi Gusela

 حدّثنى عبدالله بن محمّد: حدّثنا عبدالرّزاق عن معمر عن همّام عن أبى هريرة رع. عن النّبيّ ص قال :"خلق الله آدم وطولُه ستّون ذراعاً ثمّ قال: اِذهب فسلِّم على أولئك من الملائكة فاستمِعْ ما يُحَيُّوْنَكَ,تحيّتك تحيّة ذرّيّتِك, فقال: السّلام عليكم, فقالوا: السّلام عليك ورحمة الله, فزاده: ورحمة الله, فكلّ من يدخل الجنّة على صورة آدم, فلم يزلِ الخلقُ ينقص حتّى الآن.

        Abdullah bin Muhammad telah memberitahukan kepadaku: Abdur Razaq telah memberitahukan kepada kami dari Ma’mar dari Hammam dari Abi Hurairah r.a daru Nabi Saw. Dia telah bersabda: “Allah menciptakan Adam sepanjang enam puluh hasta kemudian dia berfirman: “Pergilah dan beri salam kepada para malaikat, maka dengarkanlah dengan apa mereka akan menyalamimu, penghormatan kepadamu adalah penghormatan kepada anak cucumu,” lalu Adam berkata: “ Assalamu ‘alaikum, maka para malaikat menjawab : “Assalamu’alaika wa rahmatullah, mereka menambah dengan kalimat ‘warahmatullah’”. umat manusia terus menerus memendek hingga sekarang, namun nantinya setiap orang yang masuk surga akan memiliki bentuk seperti Adam.”


Pendahuluan
            Allah Swt. Telah menutup risalah langit dengan risalah yang sempurna, risalah yang membawa kedamaian, keselamatan, dan ketenangan, yaitu risalah Islam. Maka ia mengutus Nabi Muhammad Saw. Sebagai Rasul dan pembawa petunjuk, dan menurunkan al-Mu’jizatul Kubra dan Hujjah al-‘Udhma yaitu al-Quran al-Karim. Al-Quran merupakan Asas, pokok, inti dan sumber utama syari’at, karena ia adalah kalam atau firman Allah Swt. Yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. melalui perantaraan malaikat Jibril al-Amin, yang mutawatir lafadznya, jadi Ibadah membacanya, dan termaktub dalam mushaf-mushaf.
            Setelah al-Quran,  pokok dan sumber ajaran dalam Islam adalah sunnah atau al-hadis. Hadis atau sunnah adalah semua yang datang dari Rasulullah saw—selain al-quran—yang memiliki fungsi dan kedudukan sangat penting dalam sempurnanya risalah Islam. Hadis atau sunnah ini berfungsi sebagai penjelas hukum-hukum syari’at, tafshil—perinci—terhadap apa yang ada dalam al-Qur’an, karena dalam al-Quran hukum-hukum syariat disebut secara global saja. Hadis atau sunnah ini berasal dari wahyu ataupun ijtihad Rasulullah sendiri,  kecuali ijtihad Rasul yang salah.
            Sadar sesadar-sadarnya akan pentingnya kedudukan hadis atau sunnah bagi tegaknya islam, maka musuh-musuh Islam pun tidak tinggal diam--baik dari kalangan orientalis atau siapa saja yang dengki dan tidak suka jika Islam jaya--dengan segala daya dan upaya, semua tenaga dan usaha mereka curahkan, menyerang dan menghantam sumber ajaran Islam yang kedua ini. Di antara usaha yang mereka lakukan adalah dengan mengkritik para rawi bahkan sahabat dengan semua hadis yang diriwayatkannya. salah satunya insya Allah akan penulis ulas dalam pembahasan kali ini, yakni kritik yang dilontarkan kepada satu hadis dari Abu Hurairah tentang penciptaan Adam dan keturunannya.
Syarah Hadis
            Secara global, sesuai dengan judul bab yang diberikan oleh Imam Bukhari, hadis yang dibawa oleh sahabat Abu Hurairah ini menjelaskan sekelumit tentang penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s. Dijelaskan dalam hadis ini, walau tidak dengan terperinci, mengenai bentuk dan karakter fisik manusia pertama itu, kemudian disinggung juga tentang adanya syariat salam.
Kritik Hadis
            Sharafudden al-Musawi dalam bukunya bertajuk ‘Menggugat Abu Hurairah: Menelusuri Jejak Langkah dan Hadis-Hadisnya’ dengan semangat membara membuka kritiknya terhadap hadis ini dengan cacian dan makiannya yang luar biasa terhadap Abu hurairah. sekilas saya kutipkan kritikannya sebagai berikut:
            “Hal ini--isi hadis tersebut—tidak akan pernah dinisbatkan pada Nabi Muhammad Saw. Atau nabi-nabi lainnya ataupun para wasinya. Barangkali Abu Huarairah mempelajarinya dari orang Yahudi, seorang temannya yang bernama Ka’bul Ahbar atau beberapa orang yang lainnya. Isi hadis ini persis sebagaimana paragraf ke-27 dari bab pertama kitab Yahudi (perjanjian lama). Berikut adalah teks sebagaimana adanya, “Allah telah menciptakan manusia seperti bentuk-Nya sendiri seperti bentuk Allah dia ciptakan dia. Laki-laki serta perempuan, dia telah ciptakan mereka.”
            Kemudian ia menambahkan, “Mahaagung Allah dari melukiskan dia dengan pembentukan, pembatasan, serta keserupaan. Mahaagung dia dan sesatlah mereka yang menisbatkan itu kepada-Nya. Mereka dapat menafsirkan haadis itu dengan menempati kata ganti “wujudnya” pada Adam sendiri, bukan kepada Allah. Jadi, pengertian hadis itu akan menjadi bahwa Allah telah menciptakan Adam di surga dengan bentuk yang sama dengan ketika ia diturunkan ke bumi. Bahwa Allah telah menyelesaikan dia dalam satu waktu serta menjadikan dia dengan panjang 60 hasta serta lebar 7 hasta,. Bentuk yang sama, yang anak keturunannya lihat, dan ia tidak berkembang dari satu keadaan ke keadaan lain. Adam bukan sebuah benih yang menjadi gumpalan beku terus segumpal daging kemudian menjadi tulang-tulang yang ditutupi daging terus kemudian janin selanjutnya seorang bayi yang menyusui kenudian seorang anak yang disapih terus remaja kemudian seorang laki-laki dengan panjang dan lebar yang normal.”
            Di akhir kritikannya ia memberikan sebuah catatan, Pertama, jika Adam memiliki panjang 60 hasta, maka menurut kesesuaian organ-organnya, lebarnya harus 17 hasta (penj,--tujuh belas sepertujuh hasta). Apabila lebarnya 7 hasta, maka panjangnya harus 24,5 hasta, sebab lebar manusia normal sama dengan dua per tujuh panjangnya. Mengapa Abu Hurairah mengatakan bahwa Adam memiliki panjang 60 hasta serta lebar 7 hasta? Apakah Adam memiliki struktur tubuh yang tidak serasi, serta rupa  atau bentuk yang jelek? Tentu tidak! Allah berfirman, “sesungguhnya kami telah ciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. (QS. At-Tin:4).” Kedua, salam dalam Islam dibuat ketika Islam datang. Nabi Muhammad bersabda, “kaum Yahudi tidak iri pada kalian akan sesuatu sebesar iri mereka terhadap salam kalian.” Apabila ucapan salam itu tidak berkaitan dengan umat ini saja, orang-orang Yahudi tidak akan iri tentangnya. Bagaimana Abu Hurairah mengatakan, “ketika Allah telah menciptakan Adam, Dia berfirman kepada Adam,’pergilah untuk menyalami malaikat-malaikat itu dan dengarkan dengan apa mereka akan menyalamimu.” Apa yang akan peneliti bijak katakan tentang hadis ini? Dan apa yanng akan mereka katakan bahwasannya orang-orang mulai memendek sejak itu sampai sekarang?.”
Tanggapan terhadap Kritik al-Musawi
            Perbedaan pendapat pada kalimat  Khalaqallahu Aadama ‘ala shuuratihi” mengenai kamana dhomir pada kalimat tersebut kembali? Ibn Hajar berkata: “dhomir itu kembali kepada Adam bukan kepada Allah.” Lalu ia mengetengahkan sebuah riwayat   dari Tirmidzi, Nasa’i, dan Bazzar yang di shahihkan oleh Ibn Hibban melalui Sa’id al-Muqbiri dari Abu Hurairah secara marfu, “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan Adam dari tanah, maka ia menjadikannya dari tanah liat kemudian membiarkannya hingga ia jadi lumpur yang diatur, Allah menciptakannya dan membentuknya kemudian membiarkannya, sehingga kala ia menjadi tanah liat seperti keramik Iblis melewatinya dan berkata: “sungguh Engkau menciptakan suatu urusan yang agung.” Kemudian Allah meniupkan ruh kepadanya, dan ruh pertama yang ditiupkannya adalah penglihatan dan rongga belakang hidung, maka ia bersin lalu berkata: ‘alhamdulillah’, maka Allah berfirman:’yarhamukallah.’”[1]
            Jika merujuk kepada riwayat yang diketengahkan oleh Ibn hajar, maka berarti Adam ketika diciptakan tidak lantas langsung menjadi manusia, akan tetapi melalui beberapa proses terlebih dahulu. Kemudian Ibn Hajar dalam fathul bari juga menjelaskan bahwa tidak ada manusia kecuali berawal dari nutfah, ini jadi bantahan bagi kaum kafir.
            Kemudian mengenai syari’at Salam Ibn Hajar juga menjelaskan bahwa pada lafadz  tahiyyatuka wa tahiyyatu dzurriyyatuka”, menunjukan bahwa salam sebagai penghormatan itu sudah ada sejak dahulu, adapun mengenai dengkinya orang Yahudi kepada Salam tersebut, hanya dengki karena tidak ingin kaum Muslim tenang, selamat, dan bahagia,. Sebenarnya mereka juga punya salam-salam yang sering mereka ucapkan jika mereka bertemu dengan sesama mereka, akan tetapi lafadnya berbeda-beda, mungkin, pada awalnya sama dengan orang Islam, tapi kemudian mereka sendiri yang merubahnya, karena jangankan Salam, kitab sucipun ,mereka berani merubahnya sesuai dengan hawa nafsu mereka. Wallahu A’lam.



[1] Ibn Hajar, Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari, jld. 7, hal. 6.

0 komentar:

Posting Komentar