Rabu, 05 Februari 2014

Umat Dalam al Quran



Anggi Gusela

            M. Quraish Shihab dalam bukunya yang bertajuk Wawasan al-Quran mengatakan bahwa kata “umat” memiliki berbagai arti, ada yang mengartikannya sebagai bangsa seperti keterangan Ensikopedi Filsafat yang ditulis oleh sejumlah Akademisi Rusia, dan diterjemahkan oleh Samir Karam ke dalam bahasa Arab, ada juga yang megartikannya sebagai negara seperti dalam Mu’jam al-Falsafi, yang disusun oleh Majma’ al-Lughah al-Arabiyyah (Pusat Bahasa Arab), Kairo 1979. Pengertian-pengertian tersebut  dapat mengakibatkan kerancuan pemahaman  terhadap konsep umat di kalangan umat islam atau di dalam al-Quran. Oleh karena itu, perlu kiranya kita mendudukkan apa sebenarnya makna dan konsep umat itu? Khusunya yang dimaksudkan oleh kitab yang berisi petunjuk bagi seluruh manusia yakni al-Quran.[1]
Arti Umat dari Sudut Kebahasaan
            Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata umat memiliki dua pengertian. Pertama, umat dalam pengertian penganut atau pemeluk suatu agama; pengikut Nabi—Islam—dalam konteks ini maka tak heran kiranya jika kita sering mendengar kalimat “umat beragama”, “umat kristen”, “umat islam” dan lain sebagainya. Kedua, umat dalam pengertian makhluk manusia, dalam konteks ini maka yang disebut umat itu adalah yang terdiri atau terbentuk dari sekumpulan manusia.[2]
            Sedangkan dalam Qamus al-Wajiz li Ma’ani al-Quran al-Karim karya al-Miraz Muhsin ‘Ali Ushfur kata “umat” memiliki tidak kurang dari sembilan makna, yaitu golongan atau keturunan, agama, bilangan tahun, kaum, pemimpin yang dicontoh, pemimpin-pemimpin dari ahlu al-bait secara khusus, bangsa-bangsa yang telah lalu, orang-orang kafir secara khusus, dan penciptaan.[3] Syaikh Mustafa al-Maraghi pun tidak jauh berbeda,  ia menafsirkan kata umat menjadi lima makna, yaitu  millah (agama), aljama’ah (kelompok), az-zaman (waktu), al-imam (pemimpin), dan al-umam al-ma’rufah (umat-umat yang sudah dikenal—yahudi, nasrani—penj).[4]
            Lebih jauh memahami makna bahasa dari “umat”, nampaknya penjelasan yang diketengahkan oleh M. Quraish Shihab sedikit banyak akan membantu. Menurutnya, umat itu terambil dari kata أمّ-يؤمّ (amma-yaummu) yang berarti menuju, menumpu dan meneladani, dari akar kata yang sama kemudian lahir kata um yang berarti “ibu” dan imam yang artinya “pemimpin”, karena keduanya menjadi teladan, tumpuan, dan harapan.[5]
Arti Umat dari Sudut Pengistilahan
            Ibn al-Mandur dalam “Lisanul Arab” memberikan penjelasan bahwa; pertama, umat memiliki pengertian “agama” seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:213 kata ummatan wahidah di sana maksudnya adalah agama yang satu; kedua, umat dalam arti “generasi”, seperti pada kalimat قد مضت أمم (qad madhat umamun); umamun di sini artinya adalah generasi, maka kalimat tersebut berarti “sungguh generasi-generasi itu telah berlalu.”[6]
            Untuk menarik benang merah dari semua pengertian “umat” di atas, saya kira baik dan besar sekali manfaatnya apabila kita ketengahkan pengertian “umat” menurut ar-Raghib al-Asfahani. Ia  memberikan pengertian bahwa umat adalah semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, baik itu agama, waktu, atau tempat dengan terpaksa ataupun atas dasar pilihan mereka sendiri. Atau dalam konteks keimanan al-Asfahani memberikan pengertian bahwa umat adalah kelompok yang memilih ilmu dan amal salih sehingga mereka jadi uswah (contoh) bagi yang lainnya. Saya kira pengertian al-Asfahani ini sudah dapat mendudukan perkara ini.[7]
Kata ummat dalam Berbagai Ayat
            Kata ummat dalam bentuk mufrad (tunggal) disebut sebanyak lima puluh dua kali di dalam al-Quran.[8] Setiap kata dalam al-Quran memang selalu memiliki banyak sekali keunikan serta menyimpan kedalaman makna, termasuk kata ummat yang sedang kita bahas. Dalam makalah kali ini saya akan coba mengulas beberapa ayat yang menyebut kata ummat, terlalu jauh jika dikatakan mewakili, namun sekiranya dapat memberikan sedikit gambaran kepada kita mengenai kandungan makna, fungsi, dan tujuan dari al-Quran dengan menggunakan kata ummat.
            Pertama, kata ummat dalam QS. Al-Baqarah:213.

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah:213)
            Dalam ayat di atas, pada susunan kalimat kaana an-nasu ummataw wahidah... menurut ‘Ali ash-Shabuni di dalamnya terdapat ijaz (penyingkatan). Artinya dalam susunan kalimat tersebut ada beberapa kalimat yang dibuang atau setidaknya tidak disebutkan, menurut ash-Shabuni barangkali asalnya adalah kaana an-nasu ummataw wahidah ‘ala al-imani mutamassikiina bi al-haq fakhtalafuu... (Manusia itu adalah umat yang satu di atas keimanan, berpegang teguh kepada hak lalu kemudian mereka berselisih...).[9] Hal ini selaras dengan apa yang dikutip oleh Ibn Katsir yakni riwayat Ibn Jarir dari Ibn Abbas bahwasannya  antara Nuh dan Adam itu berselang sepuluh generasi, semuanya berpegang kepada syariat Allah Swt, barulah setelah itu terjadi perselisihan hingga Allah Swt mengutus para Nabi untuk memberi peringatan dan kabar gembira kepada mereka.[10]
            Jadi bisa ditarik simpul bahwa ummat dalam ayat ini yang dimaksud adalah syariat atau dalam kata lain agama.
            Kedua, kata ummat dalam QS. Ali Imran:110.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ  

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran:110).
            Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, mengenai ayat ini, ö>p¨Bé&ŽöyzNçGZä.u “kamu adalah umat terbaik”. Ia berkata: “kalian adalah sebaik-baik umat manusia untuk manusia lain, kalian datang membawa mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.”[11]
            Namun yang benar menurut Ibn Katsir adalah keumuman lafadnya yang mencakup seluruh umat pada setiap generasi berdasarkan tingkatannya. Dan sebaik-baik generasi adalah para sahabat Rasulullah saw, kemudian generasi berikutnya setelah mereka, dan seterusnya.[12] Demikianlah umat dalam konteks ayat ini memiliki makna generasi.
            Ketiga, kata ummat dalam QS. Al-Isra: 71.
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖفَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. (QS. Al-Isra: 71).
Para pakar atau ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan pemimpin dalam ayat tersebut, ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah para Nabi, ada juga yang mengatakan pemimpin yang dimaksud adalah siapa saja yang dijadikan pemimpin oleh kaum tersebut, lalu ada pula yang mengatakan maksudnya adalah catatan amalnya masing-masing.
Namun, sejenak kita tinggalkan saja dahulu perbedaan pendapat para pakar. Ada yang menarik dalam ayat ini, berbeda dengan ayat-ayat lain yang menyebut kata ummat dengan makna yang berbeda, pada ayat ini justru sebaliknya; ia menyebut kata yang berbeda namun dengan makna ummat. Makna ummat dalam ayat ini disebut dengan menggunakan kata unaas. Al-Unas adalah asal kata dari an-naas, untuk mukhaffaf (meringankan pengucapannya)[13] maka dijadikanlah alif lam pada ayat tersebut pengganti dari hamzah sehingga jadilah kalimat an-naas.[14] Dalam konteks kebahasaan ini tentu sangat pas bahwa makna ummat yang disebut kata unnas adalah sekelompok manusia, karena an-naas maknanya memang manusia; yakni bentuk jamak dari kata tunggal insaan.
Keempat, al-Quran pun menyebut binatang dengan ummat; QS. Al-An’am: 38.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al-An’am: 38).
Ayat ini dengan tegas menyebut binatang sebagai ummat, dalam konteks ayat ini berarti yang dinamakan ummat itu tidak mesti sekumpulan manusia, namun binatang pun semisal burung—yang dengan tegas disebut dalam redaksi ayat—semut, dan anjing juga dapat dikategorikan sebagai ummat.
Keserupaan manusia dengan binatang-binatang baik di darat, laut, maupun udara adalah keserupaan dalam berbagai aspek, Misalnya binatang-binatang tersebut juga hidup, merasa, beranjak dari kecil hingga dewasa, memiliki naluri—antara lain seksual--, merasa lapar dan sebagainya, sama halnya dengan manusia yang tidak pernah lepas dari berbagai hal tersebut. Namun tentunya keserupaan ini tidaklah mencakup seluruh aspek, dan tidak pula setingkat atau sederajat. Misalnya kebutuhan, tubuh dan pikiran. Manusia tetap berbeda dibanding mahkluk lain meskipun terdapat persamaan yang tidak sedikit hitungannya.
Kelima, Allah Swt. menyebut Nabi Ibahim dalam al-Quran dengan kata umat. QS. An-Nahl: 120.

¨إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS. An-Nahl: 120)
            Dalam ayat ini, al-Quran dengan tegas menyebut Nabi Ibrahim dengan kata umat. Menurut Syaikh Mustafa al-Maraghi ummat adalah al-jama’ah al-katsiirah; yakni kelompok yang terdiri dari banyak orang. Menurutnya, Nabi Ibrahim disebut dengan kata umat karena beliau telah memiliki keutamaan-keutamaan dan kesempurnaan-kesempurnaan. Sebagaimana ungkapan Abu Nawas ketika memuji Harun ar-Rasyid:
أن يجمع العا لم فى واحد                                  وليس على الله بمستنكر
          Bukanlah suatu kemunkaran atas Allah
                        Untuk mengumpulkan semesta alam dalam diri seseorang.[15]
            Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa yang disebut umat itu tidak harus banyak jumlahnya secara dzat (fisik). Sebaliknya, sekalipun hanya satu orang, jika memang memiliki banyak sifat-sifat mulia, maka dalam konteks ini tidak keliru jika disebut umat.
Selain ayat-ayat di atas, masih banyak ayat-ayat di dalam al-Quran yang menyebut kata ummat, dan saya pribadi yakin selalu ada makna dan maksud yang khas dalam setiap ayat tersebut. Misalnya kata ummat dalam ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah: 2, QS. Yusuf: 45, az-Zukhruf: 22, QS. Al-Anbiya: 92, dan lain sebagainya.
Sungguh luar biasa. Indah, luwes dan lentur kata ini, sehingga mampu mencapai beraneka macam makna.


[1]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, PT Mizan Pustaka, Cet. 19, Hal. 325.
[2]Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Pusat Bahasa Departemen Nasional, 2008, hal. 1586.
[3]al-Miraz Muhsin ‘Ali Ushfur, Qamus al-Wajiz li Ma’ani al-Quran al-Karim, hal. 4.
[4] Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Dar al-fikr, Cet. 3, jld. 1, hal. 121.
[5]. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung, PT Mizan Pustaka, Cet. 19, Hal. 325.
[6]Ibn al-Mandhur, Lisanul Arab, hal. 133-134.
[7]Ar-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat fii al-Fadl al-Qur’an, Beirut, Dar al-Ma’rifah, hal. 33.
[8]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, hal. 327.
[9]Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafaasir, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, hal. 132.
[10]Tafsir Ibnu Katsir, jld. 1, hal. 410.
[11]Ibid, jld. 2, hal. 110.
[12]Ibid.
[13]Ada beberapa bentuk kalimat yang sering sekali dirasakan berat untuk ukuran lisan orang Arab dalam mengucapkannya,sehingga dalam kaidah bahasnya muncul lah kaidah semacam mukhaffaf (meringankan pengucapannya).
Ibn al-Mandhur, Lisanul Arab, hal. 73.
[15] Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Dar al-fikr, Cet. 3, jld. 5, hal. 157.

0 komentar:

Posting Komentar